26 June 2009

Sangat disayangkan, jika orang seperti dia harus mati muda. Semua tulisan dan apa yang dia lakukan selalu memberi inspirasi untuk siapa saja yang melihat dan mencoba memahami apa yang dia lakukan. Bagiku, dia insipirasi. Dia selalu berhasil membangkitkan semangat yang ada dalam, jauh di dalam diri. Beberapa kali aku rasakan semangatku mulai hilang. Namun ketika aku membaca bukunya, mendengar kisahnya, dan membayangkan untuk menjadi dia. Aku akan mulai bepikir bahwa aku bisa.
Ya..aku hanya manusia biasa. Sama seperti dia yang juga manusia biasa. Tapi dia bisa. Tulisannya bagus, semangatnya tinggi, pengetahuannya tentang sastra juga tidak kurang. Aku benar-baner mengaggumi sosok ini. Sosok yang sudah jarang kutemui, bahkan tidak pernah. Seseorang yang selalu berjuang tapi tidak pernah lupa akan hati nurani.
Dia berjuang demi kepuasan, namun juga selalu menjaga perasaan. Tidak heran jika banyak wanita yang tertarik padanya. Dia yang keras, tetapi lembut…dia yang idealis, tetapi melankolis..dia yang dingin, tetapi hangat.
Entah siapa yang sedang kubayangkan sekarang, dia atau orang yang memerankannya. Terkadang aku ingin bisa menjadi seperti dia. Bisa melakukan apa saja, tidak takut untuk selalu mencoba, tidak takut untuk mempertahankan yang benar. Tapi kadang keadaan yang ada tidak pernah mendukung 100%.
Mungkin benar, karena kecerdasan setiap orang berbeda-beda. Aku dan dia memiliki kecerdasan yang berbeda. Aku bukan dia, dan dia bukan aku. Tapi aku hanya mencoba memasukkan sosoknya ke dalam diriku, ke dalam jiwaku. Setidaknya, seperempat dari diriku bisa mencerminkan dirinya, meskipun tidak begitu mirip.
”Aku tak mau jadi pohon bambu, aku mau jadi pohon oak yang berani menentang angin”, kutipan dari catatannya. Tidak jarang aku membayangkan, dia adalah aku. Aku yang berani menulis di surat kabar tentang bagaimana keadaan kampusku sebenarnya, aku yang berani menulis tentang bagaimana Indonesia saat ini, aku yang berani menulis tentang aku di mataku, mereka di mataku, dunia di mataku, aku di mata mereka, aku di mata dunia. Hahaha…aku di mata dunia?? Dunia saja tidak mengenalku. Siapa aku ini? Menulis berita saja aku tidak becus. Blepotan.
Mana mungkin aku bisa menjadi seperti dia?? Dia yang selalu pandai bergaul dan mungkin tidak pernah merasa asing sepertiku. Dia yang selalu bisa mengalahkan setiap suasana asing dan dingin yang menyerangnya dan merubahnya menjadi suasana akrab nan hangat. Ya..aku ingin seperti dia..tapi tidak seutuhnya..
Bukan aku tidak berucap syukur dengan apa yang aku miliki sekarang. Aku sangat bersyukur dengan apa yang ada pada diriku. Tetapi aku hanya ingin memperbaiki diri menjadi lebih baik, dan bermanfaat bagi mereka yang dekat denganku. Aku tidak ingin menjadi benalu. Orang yang menyusahkan. Aku ingin seperti dia, hanya tersenyum dan selalu menumpahkan perasaan pada coretan-coretan bermakna, entah bermakna bagi siapa. Bagi diriku atau bagi mereka.
Kini aku sedang mencoba dan akan terus mencoba..bukan untuk menjadi segalanya, karena aku tetap manusia biasa yang pasti memiliki celah salah. Aku hanya mencoba menjadi lebih baik untuk mereka yang ada didekatku.
Sebenarnya siapa ‘dia’?? Dia adalah sosok Soe Hok Gie yang menginspirasi, aku suka dengan perjuangannya. Aku suka dengan caranya. Sayang dia sudah tiada, andai dia masih ada.

08 June 2009

Sekarang udah nggak jaman lagi untuk bertindak tidak demokratis. But, you know? Ternyata di negara yang katanya demokratis ini masih ada aja orangtua yang nggak demokratis, aduhhh….nggak banget deh. Kejadian ini terjadi ama sodara sepupuku sendiri.
Jadi gini nih ceritanya. Sodaraku tuh (sebut aja D) mau masuk kuliah. Nah D disuruh ma orangtuanya buat masuk akuntansi, padahal D blas nggak suka sama yang namanya akuntansi. D pernah bilang sama aku kalo dia nggak suka N nggak mau masuk jurusan yang ada hubungannya ama angka-angka. dia udah pusing dengan angka. dan parahnya dia nggak suka sama yang namanya akuntansi. Tapi sekarang dia udah terlanjur nurut ma orangtuanya, dan sudah terdaftar resmi di salah satu univ. swasta yang ada di Solo.
Mungkin orangtuanya nggak tau aja kali ya keinginan anaknya. Padahal udah keliatan banget lho kalo D itu suka banget ama desain n bakan banget dalam bidang itu. Tapi ayahnya tetep cuek. D cerita, waktu dia bilang ke ayahnya kalo dia pingin masuk jurusan DKV, dia malah dimarahi ama ayahnya. Jadi dia nurut masuk ke akuntansi. Tapi D tetep bertekat untuk masuk komunikasi, pokoknya nggak akuntansi.
Tapi pliss deh…ayahnya itu lho….
Padahal udah keliatan lho kalo D itu sukanya sama desain, N nggak suka ama yang namanya akuntansi N angka-angka yang gak jelas. D itu pingin kuliah sekaligus bisa mengeksplor semua kreativitas yang ada dalam otaknya. Bukan dieksplor dengan angka-angka.
Kasian sekali D. kalo begitu aku masih bersyukur, karena orangtuaku masih demokartis.
Lagian lho..yang ngejalani kuliah kan anaknya, yang ngerasa susah nggaknya kan ya anaknya. Trus kenapa ayahnya ngatur2?
Perlu diingat ya….”kita bisa memiliki tubuh seseorang, tapi kita nggak pernah bisa memiliki jalan hidup seseorang”