10 January 2010

Jum’at, 25 September’09 lalu, suasana rumahku menjadi riuh dengan suara tawa, tangis, dan teriakan anak-anak kecil. Kaki-kaki kecil itu berlarian dari depan hingga belakang rumahku, seperti tak kenal lelah, padahal mereka baru saja datang dari Jogja.

Orang tua mereka yang juga mbak dan mas sepupuku saja sudah tidak kuat menyangga tubuh mereka. Sepertinya punggung-punggung tua yang kelelahan itu ingin sekali disandarkan setelah menempuh 8 jam perjalanan. Hummm…bisa kubayangkan, pasti lelah. Berada di dalam besi kotak bermesin dan beroda yang lebar ruangnya terbatas, duduk dan tidak bisa ke mana-mana. Hal-hal yang bisa dilakukan di dalamnya mungkin hanya mengobrol, melihat keluar jendela, melamun, mengutak-atik telepon selular, atau yang terparah hanya tidur.

Aku duduk di kursi dekat meja makan. Hanya bisa memandang wajah-wajah mungil itu sambil tersenyum dan sesekali tertawa. Mereka nakal, lari kesana kemari tanpa menghiraukan lainnya, berteriak, menangis jika keinginannya tidak terpebuhi, pokoknya tau beres. Tetapi terkadang lugu, malu-malu, hahaha ,lucu ya mereka. Tiba-tiba bayanganku kembali ke masa 16 tahun lalu, saat itu kira-kira umurku sama dengan mereka, saat ini aku 21 tahun. Apakah dulu aku seperti mereka?? Tanya itu tiba-tiba menyelinap dipikirku. Mungkin.

Pandanganku beralih pada seorang bayi yang umurnya mungkin belum ada satu tahun. Dia lucu, imut, anteng, tidak berisik seperti anak lainnya. Kalau digoda hanya bisa tersenyum, pokoknya lucu sekali. Sambil menyedot botol susunya, bayi itu sesekali juga melihat kakak-kakaknya yang berlarian kesana kemari, berteriak, dan tertawa. Mungkin dalam pikirnya “kapan aku bisa berlari dengan kakiku sendiri?? Tidak hanya digendong ke sana ke mari?”

Saat itu sempat aku berpikir “enak ya jadi anak kecil?” bisa dengan bebas berlarian, tertawa tanpa berfikir berat. Kalau keinginannya tidak dituruti tinggal menangis atau berteriak, kemudian ‘cliiingg’ keinginan akan terkabul. Tidak perlu tau mana yang benar dan yang salah, yang penting happy.
Ahh..anak kecil. Terkadang ingin rasanya kembali ke masa kanak-kanak dulu. Andaikan bisa?!! Everyday is happy day. Hal-hal sepele yang baru ditemui adalah kejutan, selalu terasa menyenangkan dan mengasikkan karena belum pernah dilakukan sebelumnya.

Bukannya aku tidak bersyukur karena sekarang bukan anak kecil lagi. Aku senang dengan apa adanya aku sekarang. Yahhh..setidaknya aku pernah merasakan dunia mereka, dan mereka belum pernah merasakan duniaku. Meskipun tidak selamanya benar, paling tidak aku tau mana yang harus dilakukan dan tidak.

Menjadi kecil kemudian beranjak ke dewasa adalah suatu proses yang menyenangkan, ada banyak kejutan dan pengalaman baru yang selalu bisa dijadikan pelajaran dan cerita.

“Tapi mungkin jadi anak kecil enak ya??” (tetep!?)

Aku jadi ingat dengan kutipan Soe Hok Gie, dia mengatakan :

“Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
yang kedua dilahirkan tapi mati muda
dan yang tersial adalah berumur tua
berbahagialah mereka yang mati muda”

Rugi sekali jika tidak pernah dilahirkan. Tidak bisa melihat indahnya alam, merasakan belaian angin, merasakan rintik-rintik hukan, menikmati cantiknya cahaya bulan, hingga mencoba hal-hal baru yang selalu menjadi kejutan. Meskipun terkadang hidup itu dirasa kejam, tapi dari situlah kita tau, belajar, dan mengerti.

Bahagianya jika bisa merasakan hidup sebagai anak kecil, remaja, manusia dewasa, orangtua, manusia tua, kemudian menjadi tubuh tanpa nyawa.

“Hidup itu indah ya??”


By. Gend

Cerita singkat ini ada karena kami (Dian, Lala, Ratri) memiliki visi misi yang sama, yaitu segera mengakhiri penderitaan tak tertahankan di bangku kuliah agar tidak semakin berkepanjangan. Namun sayangnya, mengakhiri penderitaan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kami harus melalui tahap yang memilukan. Ada air mata, rasa lelah, jenuh, atau kadang gemes. Tapi yang paling memilukan adalah derasnya aliran kran tabungan kami yang terus mengucur, karena banyak keperluan ini itu selama menggarap SKRIPSI.

***

Pada hari Rabu siang, tiga mahasiswi cantik terlihat sedang berdiskusi di dekat Patung Garuda depan gedung FISIP, UPN “Veteran” Jatim. Meski matahari cukup terik, namun hembusan angin dirasa bersahabat. Mungkin hal itu yang membuat mereka betah berlama-lama di sana.

Sambil mengangkat kaki yang semuanya terbungkus sepatu kodachi merah ke atas tempat duduk, mereka asik berceloteh. Samar-samar terdengar kata seminar proposal.

“Heh rek, kon kapan seminar proposal?” tanya Dian tiba-tiba.

“Lho kowe ra ngerti tow Di?” tanya Lala balik. “Aku sama Ratri kan seminarnya besok!” lanjutnya. Lala adalah satu-satunya orang di antara kami yang masih memanusiakan manusia, yaitu memanggil dengan nama asli, bukan nama samaran.

“Iyo ta? Akhirnya.” Ucap Dian. “Lha terus, kon lapo rek malah tenger-tenger nang kene? Ndang dipelajari po’o proposale!!!”

“Sek ta lah Mon!” sergah Ratri. “Aku iki jek golek howo. Lha, pas nyekel proposal, wetengku dadi seneb!”

Sebentar mereka diam, tak ada suara terdengar. Hanya ada suara desiran daun-daun yang telah gugur terbawa hembusan angin ke sana ke mari.

“Kowe ngerti Di?” tanya Lala memecah keheningan. “Pas ngerti seminar tanggal limo sesuk, aku rasane ndredeg, wedi aku.” Jelas Lala.

“Betul itu!” timpal Ratri sambil manggut-manggut.

“Lha lapo se wedi? Pengujine lho gak nyakot!” “Wis ndelog aku seminar wingi kan?”

“Enak uripmu, wis mari seminar!” ejek Lala.

“Enak!!!” jawab Dian. Dian memang sudah lebih dulu menghadapi seminar proposal, karena proposalnya jauh-jauh hari sudah selesai.

“Heh, opo ae se rek!” potong Ratri. “Rameee ae ket mau! Tenang po’o!”

“Kon iku Gend! Iki lho rungokno, ben pas seminar wetengmu ra seneb!” tutur Dian mencoba menyarankan.

“Lha mbok pikir aku ket mau lapo? Ngrungokno aku iki!” Protes Ratri.

“Terusno La!” lanjut Dian.

“Yo kuwi, aku wedi ae nek gak iso njawab pertanyaane penguji. Kan ngerti dewe piye penguji nek tekon!”

“Lho saiki ngene!” Dian mengawali nasehat. “Proposal itu yang bikin kan kita sendiri. Pasti kita menguasai isinya. Pertanyaan apapun yang ditanyakan nanti, yo dijawab opo ono e ae!”

“Tapi nek nang ngarep ngunu, pasti nggrogi Di! Dan pas penguji tekon terus, kene pas bingung!”

“Inget nggak kata mas Arul? Kalo pas seminar gitu, gak usah idealis! Ikuti ke mana alurnya penguji.”

“Lagian lho, kita nggak sendiri. Kan ada pembimbing di sana!” jelas Dian panjang lebar. “Heh, Gend! Kon ngrungoke ora?”

“Iyo iyo Mon! aku ketmau lak ngrungokno se!”

“Meneng ae, komentar po’o!”

“Lha mbok pikir pesbug kok atek komentar? Heheheh” canda Ratri.

“Iyo se. Yo wis pokok e kudu SEMANGAT!! Kudu iso!” kata Lala dengan penuh keyakinan.

“Nah, betul itu. Setuju saya!” timpal Dian.

“Heh, lapo se ndredeg?” tanya Ratri tiba-tiba. “Kene lho wis tau seminar magang. Lak podo ae se? Cuma iki proposal.” “Anggep ae awakdewe lagi bimbingan karo tiga dosen sekaligus dengan bonus pertanyaan yang memojokkan!” “Ingat, nggak ada seminar itu. Yang ada ngobrol sama dosen di ruang seminar! Ok?”

“Lha ngerti ngunu lho?” tanya Dian.

“Ancen!” jawab Ratri singkat.

“Mau jaremu nek nyekel proposal wetengmu seneb?”

“Oalah, sing mau ta? Yo gak popo, wong ancen wingi pas aku nyekel proposal pas aku masuk angin. Yo jelas ae wetengku kroso seneb!” jawab Ratri santai. “Mangkane saiki golek howo, ben gak masuk angin maneh!” lanjutnya.

“Ooo..PALSUuu!!!!” Dian dan Lala bersamaan.

“Heh gak palsu rek!” protes Ratri. “BTW, mene lak Kamis?”

“Iyo, terus opo o?” balas Lala.

“Latian capoe gak?” tanya Ratri lagi.

“Yo iyolah! Moso goro-goro seminar ae gak Capoe?” jawab Lala. “HAJAR BLEH!!” Teriak Lala.

“HAJARRR!” jawab Ratri dan Dian bersamaan.

“Bleh!” tambah Dian.



Sidoarjo, 4 November 2009 / 12.18 am

CATATAN PENULIS:

Tulisan ini cuma bentuk ekspresi saya. Iseng aja sih nulisnya, map juga kalo GJ….hehhee
Nah, tanggal 5 November besok saya dan Lala mau seminar proposal, kalo Dian udah seminar duluan…jadi mohon doanya y…semoga lancar. Nggak lupa juga, kami (Dian, Lala, Ratri) bertiga juga minta doanya lagi, semoga kami bisa wisuda Januari 2010 besok.amin (seminar proposal, lisan, wisuda, LANCARRRR.amin)
Tidak seperti biasanya, pagi ini hujan turun begitu deras. Mungkin langit tau, kalau hatiku sedang menangis, dan dia mewakili tangisanku. “Terimakasih hujan, kau datang.” :D

Aku menatap lurus-lurus keluar jendela kamarku. Titik-titik hujan itu turun dengan bebas, tanpa ada yang menggantungnya dari atas. Awan mendung melepasnya tanpa ingin menariknya kembali ke atas.
Andai rasa ini juga bisa begitu. Andai rasa ini juga bisa kulepas bebas dan tidak akan pernah ingin terus kusimpan. Tapi rasa ini bukan air hujan. Rasa ini adalah cinta. Dan cinta ini tidak menyelinap dan masuk ke dalam hatiku begitu saja. Namun bertahap dan menguat. Entah apa yang membuatnya begitu betah berada di dalam sini. Padahal seseorang itu tidak pernah menginginkan cinta ini ada, hanya aku yang menginginkannya tetap hadir. Harusnya aku cepat-cepat membuangnya jauh atau menguburnya dalam-dalam.

Tak seorang pun yang memaksaku untuk terus menyimpan cinta ini, tapi cinta ini yang seakan lebih memilih untuk terus bernaung di dalam hatiku. Aku biarkan dia terlelap di sini, meski aku tau setiap dia terbangun, aku akan merasa kesakitan yang begitu dasyat, sampai aku sendiri tidak tau bagaimana cara menghilangkannya. Aku tau rasa sakit ini muncul karena luka yang aku tidak pernah tau bagaimana cara mengobatinya, dan aku hanya bertahan dengan tangisan.

beberapa waktu aku bertahan dalam kondisi yang seperti ini. Terbersit keinginan untuk pergi dari kondisi yang seperti ini, tapi selangkah aku maju untuk pergi, tetap saja aku kembali pada kondisi yang sama. Aku seperti dalam kubangan, dan aku tidak bisa keluar dari situ.

Tetapi wahai kau yang jauh di sana, percayalah, aku selalu berusaha melepas bebas rasa ini seperti air hujan yang turun dari langit, aku selalu berusaha keluar dari kubangan dengan caraku sendiri. Karena aku juga ingin berlari, terbang, dan menari.

Bebaskan juga dirimu, gerakmu, ucapmu, khayalmu, dengarmu, pandanganmu, pikirmu, jangan terbatasi karena kau tau rasaku ada. Karena bahagiamu sama dengan bahagiaku.

"Kau tau?? sesakit apapun aku, aku selalu baik-baik saja."

“Karena kau terlalu baik, dan aku terlalu egois”




Sidoarjo, 27 Desember 2009 (8.14 am)