25 March 2011


Beberapa hari ini, saya memikirkan tentang kejadian dua tahun lalu. Sesuatu yang sungguh saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Mungkin bukan hal terpenting, tapi  jika dibenahi maka akan menjadi penting.
Bukan hal tentang saya, namun tentang tempat yang saya gemari. Pantai.
Surabaya terkenal dengan pantai yang disebut Kenjeran.  Ya pasti, karena (setauku) hanya ada satu pantai di sini. Ini tentang pengalamanku ketika mengunjungi tempat itu. Namun sebelumnya, aku ingin terlebih dahulu menceritkan tentang pendapat banyak orang mengenai pantai tersebut.
Ketika kalian mendengar kata pantai, pasti yang terbayang adalah pasir, ombak, matahari yang indah, bau laut yang khas, pokoknya serba tentang kemolekan alam yang  ada tanpa campur tangan manusia di dalamnya. Namun ketika beberapa orang kutanya tentang pantai kenjeran, jawaban mereka tidak sama dengan bayangan di atas. Banyak diantara mereka mengatakan bahwa pantai Kenjeran adalah pantai yang bau, kotor, tidak terawat, bahkan ada celetukan seorang teman “mending aku sakit di tempat tidur, dari pada ke pantai kenjeran”. Ihhwau, memang separah apa pantai kenjeran?
Dua tahun yang lalu, saya pergi ke sana bersama dua orang teman. Maksud kami adalah ingin mencari tempat yang nyaman guna mengadakan Rapat akhir periode untuk organisasi. Tapi mungkin yang didapatkan di sana bukan kenyaman, namun hal lain.
Waktu itu malam hari. Kebetulan teman saya memiliki rumah di dekat situ, sehingga kami bisa masuk tanpa harus membayar. Ketika baru saja melewati pintu masuk, di sebelah kiri (sepertinya) ada sebuah taman, ada bangku-bangku panjang dan banyak pohon, tidak begitu jelas bentuknya, karena tak ada penerangan sama sekali di sana.
Setelah melewati taman, kami berbelok ke kiri, sepertinya ini adalah arah hotel atau motel di Pantai Kenjeran berada. Namun ternyata, taman itu cukup lebar, dan aku masih bisa melihat sisi taman yang gelap gulita itu. Kemudian samar-samar, kulihat dua sejoli yang sedang belajar mengendarai sepeda motor. Oh, ayolah, belajar mengendarai motor malam hari dan di tempat segelap itu, sepertinya mereka mau acrobat. Coba saja taman itu ada sedikit penerangan, pasti tidak akan digunakan sejoli yang belajar naik motor di malam gelap.
Tidak cukup sampai di situ, setelah memarkir motor di halaman hotel. Kami memasuki sebuah lobby hotel yang amat sangat sepi. Hotelnya cukup bagus, namun kami sangat dikejutkan ketika di bagian recepsionis terpampang tulisan “8 jam Rp 45.ooo,-“. Ihwau, hotel seperti apakah itu yang hanya dihargai Rp 45.ooo,- /8 jam? Setelah membaca tulisan tersebut, yang ada dipikiranku adalah, pantas saja Pantai Kenjeran terkenal dengan hal-hal “begitu”. Coba bayangkan, biaya sewa kamar hotel  semurah itu, pasti semudah itu juga “mereka” menyewa untuk “chek in check out”. Pikiran buruk? Pasti.
Kami tetap menuju lantai atas untuk melihat-lihat kamar di sana.  Kamarnya cukup luas, tempat tidurnya pun lebar, cukuplah untuk mengadakan rapat akhir periode. Ada jendela lebar yang menghadap ke arena balap kuda, entah masih digunakan atau tidak, namun di tempat itu penerangannya tidak jauh beda dengan taman yang kami jumpai di awal tadi. Kemudian pandangan saya beralih ke tempat tidur, tiba-tiba ingatan saya kembali pada harga Rp 45.000,- tadi, dan sesaat terpikir sudah berapa orang yang “tidur” di atas tempat tidur ini. Pikirku, lebih baik tidak menggunakannya. Dan kami putuskan untuk menolak kamar hotel itu.
Pencarian ini tidak sampai disitu saja, kami masih dibawa berkeliling menuju cottage-cotage yang ada di sisi lain pantai kenjeran.  Sampai di depan resepsionis, terpampang juga harga per malamnya, namun aku lupa pada kisaran berapa, yang jelas tidak jauh dari harga hotel tadi.
Dengan menggunakan motor, kami memasuki area yang dipenuhi dengan cottage. Bentuknya lebih mirip perumahan padat penduduk tipe 21 RSSS. Sekali lagi, penerangannya tidak terlalu banyak, remang-remang, dan bahkan ada yang gelap gulita, persis sekali dengan perkampungan mati yang penduduknya sudah digusur karena wabah penyakit. Memang ada cottage yang ditempati, namun jaraknya jauh.
Kami mencoba masuk ke dalam sebuah cottage yang jalanannya cukup terang dibanging dengan lainnya. Dan ternyata keadaannya memilukan. Garasi nya gelap, ruangannya juga sempit, pengap, dan berdebu. Pikirku, cottage ini lebih pantas jika digunakan untuk lokasi syuting film horror dari pada disewakan untuk menginap. Belum lagi melihat sekitar kanan kiri, sepi, sungguh mirip perkampungan hantu.
Belum sempat kami meninggalkan lokasi, tiba-tiba penghuni cottage depan kami datang dengan mengendarai motor. Mereka juga dua sejoli, entah dalam status menikah atau berpacaran, yang jelas mereka hanya datang berdua dan untuk menginap, karena setelah memarkir motornya dalam garasi, mereka bergegas masuk ke dalam dan menutup pintu rapat-rapat. Upz, apakah mereka suami-istri? Kalau memang suami istri, kenapa harus menginap di sini? Padahal nomor polisi motornya saja L (Surabaya), kalau memang orang Surabaya, kenapa harus menginap di tempat seperti ini? di rumah kan pasti lebih nyaman. Entahlah..
Kami benar-benar tidak ingin memilih tempat rapat seperti itu. Dan semua tempat kami tolak. Dan akhirnya kami beranjak pergi dari tempat itu, dan cukup sudah wisata malam kami di Pantai Kenjeran.
Tapi masih ada cerita lagi tentang pantai itu. Di suatu sore, aku dan temanku pergi ke sana, awalnya ingin menikmasti pantai di sore hari. Lumayan ramai, banyak orang berjualan dan pengunjung.  Kami duduk di pinggir pantai, memang benar, tidak seperti pantai-pantai saya kunjungi sebelumnya, pantai yang satu ini memang cukup kotor. Orang-orang yang berjualan di sampingnya, dengan sangat ringan tangan membuang sampah ke laut.
(Biasanya aku banyak menemukan tulisan “Dilarang membuang sampah di sungai”, nah yang ini tidak di sungai, tapi lebih besar lagi areanya, laut)
Ahh, memang cukup tragis tempat wisata yang satu ini. Coba pemerintah memberikan sedikit perhatian dan sentuhan kasih pada tempat ini, mungkin akan sedikit enak dipandang, dan tidak akan menjadi tempat “bersenang-senang” pihak-pihak nakal.
Coba lihat, pintu gerbangnya saja kumuh.
Cerita di atas hanya sekedar pendapat dari saya yang tak suka melihat pemandangan seperti itu, terlalu banyak hal negative. Maaf bagi yang kurang berkenan setelah membacanya ^^.

23 March 2011


 pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Kubuka mata dan jendela kamar lebar-lebar, kudengar kicauan burung yang begitu merdu, kuhirup udara pagi yang segar. kulihat tetes-tetes embun  yang masih bergantung di ujung-ujung daun.
"Goog Roming, Moring!!!" teriakku bersemangat.
Iyupz, aku memang teramat berbahagia hari ini,karena sahabatku yang sudah sepuluh tahun hijrah ke Jakarta hari ini akan berada di Surabaya, dan pasti tak akan kusiakan hari ini. karena tidak lebih dari dua hari di kota kenangan kami.
Jauh-jauh hari kami telah memiliki rencana untuk mengisi hari ini, dan aku tidak akan terlambat menjemputnya di stasiun meski barang sedetik. Hari ini kami berencana untuk putar-putar kota Surabaya hingga larut malam. Seperti kebiasaan kami ketika sama - sama duduk di bangku kuliah dulu.
Segera aku mengambil handuk dan berlari masuk kamar mandi, betapa hari ini kunantikan, setelah sekian lama tidak bercengkraman dengan sahabatku, dan hari ini kami akan keluar  seharian. Seperti orang pacaran saja, tapi hal ini lebih penting dari pacaran, persahabatan yang amat mengesankan.
Jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul 10.00 tepat, ponselku tak kunjung menerima sms dari Dina. aku mulai cemas, karena harusnya jam 10 pagi ini dia sudah sampai di stasiun. aku coba berpikir positif, mungkin keretanya memang mengalami keterlambatan.
Lama aku menunggu, kulirik jam tanganku lagi, sudah pukul setengah sebelas, namun tak kunjung ada sms masuk juga. karena tak sabar akhirnya kuputuskan untuk menunggu di stasiun saja. Hanya 15 menit, dan kini aku sudah berada di depan pintu stasiun. Memang tadi ku kebut motorku, karena aku tak ingin
sahabatku sampai lebih dulu dan harus menunggu.
aku masuk dan tidak kudapati sahabatku berada di sana, ponselku juga belum berbunyi. aku mondar-mandir kesana kemari, tapi Dina belum juga menampakkan batang hidungnya. kulihat jam tangan, dan ternyata sudah setengah jam lebih aku menunggunya di stasiun. aku semakin cemas, dan tak tahan. akhirnya aku bertanya pada bagian informasi stasiun.
"Permisi, Pak! Kereta dari Jakarta harusnya jam 10 tadi sudah datang, tapi kok belum ya, Pak?!"
Bapak bagian informasi itu diam, menatapku, dan jelas aku merasa aneh dengan tatapannya.
"Pak, apa memang ada keterlambatan?" tanyaku lagi.
"hmm, begini mbak, kereta yang dari Jakarta....."
"Plakkk!" Belum sempat bapak itu melanjutkan informasinya, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.
"Hai cewek!" jawab seorang wanita yang tadi menepuk pundakku.
"Ahhhh, Dina!!! lama sekali datangnya!!" jawabku dengan berteriak kegirangan. Aku lupa dengan bapak bagian informasi, dan aku mengikuti Dina yang tengah menarik tanganku untuk pergi ke arah pintu keluar.
"Kok lama sih, Din?" tanyaku kesal.
"Haha, iya, tadi ada masalah pada keretanya, jadi terlambat." jawab Dina seraya tersenyum. "so, kita kemana dulu nih?" lanjut Dina.
"hmmmm,ke Timezone!!!" teriakku.
Kami berlari kecil menuju parkir motor, dan segera memacu motor matic hijauku. Aku membonceng Dina, karena dia tidak bisa mengendarai motor, dan tidak pernah mau mencoba belajar. Beruntunglah cuaca hari ini sangat cerah, secerah hati kami. Jadi tak perlu memikirkan jas hujan atau berteduh. Duo sahabat ini bisa bersenang-senang sepuasnya.
Selama diperjalanan menuju mall, kami bercerita panjang lebar tentang pengalaman masing-masing usai lulus kuliah. Maklumlah, sudah sepuluh tahun lamanya tidak bertemu, jadi pasti banyak pengalaman menarik yang ingin diceritakan.
Kami tertawa terbahak sambil bercerita, dan tanpa sadar semua mata dijalanan tertuju pada kami, memandang aneh, upz, mungkin suara kami terlalu keras. Tapi kami tetap cuek.
Sampai di Mall, kemudian aku dan Dina langsung lari menuju Timezone, membeli koin dan memainkan semua permainan di sana tanpa malu, dan pastinya tidak mau kalah dengan anak-anak kecil. Hingga lagi-lagi pengunjung di sana melihatku dan Dina dengan tatapan yang aneh, mungkin mereka juga terganggu.
Aku dan Dina paling senang permainan racing car, dan kami memainkannya berulang-ulang dengan taruhan bagi yang kalah harus memijit nanti malam.
Sungguh menyenangkan pergi bersama sahabat. Usai dari Timezone, kami berkeliling mall, memasuki semua toko yang ada, tanpa membeli barang, lebih tepatnya hanya window shopping dan bergaya seperti para borjuis. Seperti itulah kebiasaan kami ketika kuliah, bersenang-senang dengan cara kami, tidak perlu menghamburkan banyak uang, yang penting senang.
Tak terasa kami menghabiskan waktu 3.5 jam di Mall, dan saatnya kami menuju target selanjutnya, mengelilingi kota Surabaya di waktu sore. Memang seperti orang yang kurang kerjaan, tapi itulah kami, selalu melakukan hal-hal yang membuat kami berdua senang, tidak peduli orang-orang memandang ataupun berpikir aneh, yang penting kami senang.
Semua jalan di Surabaya kami lewati, merasakan angin, sengatan matahari sore yang hangat, tersenyum pada pengamen yang bernyanyi sengau di setiap lampu merah, menggoda orang-orang yang asyik pacaran di tiap taman di Surabaya. Tak lupa, kami juga mengabadikan moment, jeprat-jepret, narsis di depan kamera yang selali siap sedia di dalam tasku. Karena aku selalu menghargai setiap moment. Dan moment kali ini memang hukumnya wajib diabadikan.
Sejenak kami duduk di atas rumput taman yang hijau, tidak lembut, tapi cukup nyaman untuk bersantai di atasnya.
"Enak ya Din di Jakarta, pasti rame, aku pingin ke sana!"
"Nggak juga Lil, Jakarta itu kejam, aku harus senggol sana sini untuk tetap bertahan!" jawab Dina.
"Senggol?" tanyaku singkat.
"yupz". "kalo nggak nyenggol, kita yang bakal disenggol duluan, hehe" jawab Dina diiringi dengan tawa.
"Tapi kerjaanmu kan enak Din, asisten produser di televisi swasta besar, pasti nyaman dan gajinya gede."
"hahahaha" tawa Dina. "Nggak juga, Lil. Gajiku memang besar, tapi persaingannya kejam, aku harus benar waspada agar tidak disenggol di kantor. Mungkin mereka lebih senang kalo aku tidak ada di kantor, dari pada setiap hari harus beradu argument denganku". Jawab Dina panjang dan tajam.
"mati maksudnya?" tanyaku asal.
"mungkin!" jawab Dina singkat.
"wkwkwkwkkw, ada-ada aja ngomongin mati, we are young, and we are free!!!!" candaku pada Dina.
Namun Dina kini hanya tersenyum dan pergi menuju motor. Aku menghampiri Dina, kulihat wajahnya sendu, sepertinya dia sedang ada masalah. Mungkin persaingan dengan temannya di kantor membuat Dina lelah.
"Tenang sahabat, everything's gonna be ok!" kataku sambil menepuk bahu Dina.
"Kemana kita sekarang?" tanya Dina ala Dora The Explorer
"Tanyakan Peta!!!" jawabku bercanda, dan gelak tawa kembali menghiasi kami.
Aku dan Dina melanjutkan perjalanan menuju target tempat terakhir, pantai. Kami sangat suka mengunjungi pantai di malam hari. ombaknya besar, apalagi suara deburannya begitu menggoda
telinga. Rasanya ingin bersatu dengan mereka dan berucap selamat tinggal pada daratan. Tapi hal itu tidak pernah benar-benar kami lakukan.
Berlama-lama di pantai dan melihat pemandangan romantis antar dua insan memang cukup mengasyikkan dan berhasil melepas penat yang menempel di otak kami. Di tepi pantai, kami tidak banyak mengeluarkan suara, lebih banyak diam namun berbicara pada alam, menyampaikan semua yang kami rasakan.
Sudah jam 9 malam, dan waktunya aku mengantarkan Dina ke hotel.
"Din, udah malem, kamu nggak cari hotel?"
"Eh iya, ayookk!"
"Kenapa sih nggak nginep di rumaku aja, biasanya kan gitu."
"biasanya kan, ini nggak biasa, jadi aku nginep di hotel aja."
aku menuruti permintaan Dina, mengantarnya ke hotel dan tidak memaksanya lagi untuk menginap di rumahku. Dina adalah orang yang tak suka dipaksa, bisa marah dia.
Sampai di depan hotel, Dina turun dari boncengan motorku, dan berpamitan padaku
"lhoh Din, ngapain pamitan, besok juga masih ketemu, lagian aku kan mau nganter ke kamar kamu dulu."
"Nggak usah Lil, sampai sini aja. Udah malem." jawan Dina.
"Lhoh kok?"
"Udah." "Oh iya, maaf ya klo aku punya salah, Lil."
"Ihh, apaan sih."
Akhirnya aku pergi meninggalkan hotel, dan bergegas menuju rumah. Lelah sekali aku hari ini, dan ingin rasanya aku segera merebahkan punggungku di atas tempat tidur. Sampai di rumah, belum sempat aku masuk kamar, aku sudah disambut kedua orangtuaku di depan pintu.
"Kamu dari mana saja, Lila?" tanya ayahku dengan suara pelan.
"Lhoh, kan tadi Lila udah bilang, Lila pergi ama Dina, yah."  jawabku menjelaskan.
"Dina yang mana, yang kamu ajak pergi?" tanya ayah lagi.
"Dina yang mana?" tanyaku bingung. "Ya, Dina Praneswari, siapa lagi?"
Ayahku terdiam dan menunduk. Kemudian aku menengok ke arah ibuku, ibuku hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa sih?" tanyaku geram.
"Kereta yang tadi dinaiki Dina, mengalami tabrakan dengan kereta lain, semua gerbong rusak, dan tidak ada satupun penumpang yang selamat." jelas ayah.
"Hah??" tanyaku kaget. "Nggak mungkin, Lila tadi pergi sama Dina, yah!" teriakku. Aku tidak mengerti dengan perkataan ayah.
Dengan rasa kesal, aku berlari ke kamar, dan menutup pintu keras-keras. Aku tidak habis pikir dengan maksud Ayah dan Ibu. Kenapa mereka mengatakan Dina meninggal, padahal seharian ini aku pergi dengan Dina.
Ibu mengetuk pintu kamarku, kemudian masuk dan duduk di atas tempat tidurku.
"Ibu dan ayah tidak bohong Lila." "Tadi orangtua Dina menelpon, dan mengabarkan berita duka ini." tutur ibu perlahan.
"Nggak mungkin, bu!" "Hari ini, seharin Lila pergi bareng Dina, mana mungkin kereta Dina kecelekaan."
Aku tetap menyangkal seraya mengambil kamera dalam tas yang tadi digunakan untuk berfoto bersama Dina.
"Ini, ibu lihat deh, ada foto-fotoku sama Dina, hasil jepret  tadi siang, bu!" jelasku sambil mencari foto-fotoku dengan Dina. Lama kucari, tapi tak kutemukan satupun foto Dina. Semuanya hanya fotoku yang sedang bergaya sendiri. kupastikan sekali lagi, baju yang kupakai dalam foto itu adalah baju yang hari
ini kupakai. Tapi tetap saja aku berfoto sendiri, tak ada Dina di dalamnya.
"Nggak mungkin, bu!"
"Kenapa Lil?"
"Nggak mungkin!!" sergahku tak percaya.
"Kenapa Lila?" tanya ibu cemas.
"Semua foto Dina nggak ada, Dina nggak ada di foto bu!" teriakku.
Aku menangis sekencang-kencang dan mulai mempercayai berita tabrakan kereta itu. aku menyerahkan kameraku pada ibu, kemudian memeluk dan menangis sejadi-jadinya. Ibuku juga melihat foto-foto dalam kameraku, hanya ada foto-fotoku, dan tidak ada wujud Dina pada semua foto.
"Mungkin dia hanya ingin menepati janji, Lil!" ucap ibu mencoba menenangkanku.
Aku sudah tidak sanggup berucap apapun, ibu membimbingku ke atas tempat tidur, dan menyuruhku tidur. "Tenang ya sayang!" ucap ibu lagi. Sementara aku masih terpaku dan melihat isi kameraku. Memang tak ada foto Dina di sana. Aku menelungkupkan wajahku dibalik bantal, dan kembali menangis sejadi-jadinya. Sampai tak sagar aku tertidur. Mungkin karena terlalu lelah menangis dan lelah bersenang-senang seharian sendirian.
Besoknya, ibu membangunkanku. Ibu mengatakan bahwa jasad Dina sudah ditemukan dan hari ini akan dimakamkan di Surabaya, tempat kelahiran Dina. Ibu menyuruhku segera mandi, kemudian lanjut ke pemakaman sahabatku yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
Dalam perjalanan ke pemakaman, aku masih mengingat kejadian kemarin. Bagaimana kami tertawa bersama, bagaimana kami bermain di Timezone, duduk-duduk di pantai, di taman, bercerita dan tertawa.
Pantas saja, bapak bagian informasi stasiun kemarin terdiam ketika kutanya tentang kedatangan kereta dari Jakarta, pantas saja orang-orang memandangku aneh, karena ternyata aku hanya berbicara dan tertawa sendiri tanda ada teman, mungkin mereka menyangkaku orang gila. Dan tak ada sms dari Dina, karena dia tidak pernah sempat mengirimkan sms padaku, apakah dia sudah sampai atau belum, karena sebenarnya dia tidak pernah sampai. Air mataku kembali keluar di dalam mobil, sementara ibu terus memelukku.
Sesampainya di makam Dina, masih banyak orang di sana. Namun jasad Dina sudah selesai dikebumikan. Aku terlambat, tak sempat melihat wajah cantik Dina untuk terakhir kali. Namun menurut keluarganya, wajah Dina sudah hancur, mereka pun mengenali jasad Dina dari kalung yang dia pakai.
Aku duduk di samping makam Dina, mengelus batu nisan Dina.
"makasi ya Din, kamu sudah datang kemarin. sudah membuatku senang, pergi ke tempat-tempat yang kita gemari dulu." Kataku pelan dan tak sadar air mataku meleleh dipipi.
Ibu Dina mengelus kepalaku. Aku tau, dia sangat terpukul dengan kepergian anaknya, melebihi aku. "Sabar ya tante!" ucapku dengan tersenyum.
Aku tak tau siapa dan wujud apa yang menemaniku kemarin seharian bersenang-senang, namun yang aku tau, dia adalah Dina, sahabatku. Seperti kata ibu semalam, Dina hanya mencoba untuk menepati janjinya.
"Semoga tenang disana sahabatku sayang"
google.com

14 March 2011


google.com
Hanya berbagi sedikit pengalaman mengenai penipuan berkedok hadiah.  Biasanya saya mendapati penipuan semacam ini, hanya dilakukan melalui sms, yang kemudian diteruskan dengan menghubungi nomor tertentu yang tertera pada sms tersebut.
Namun sepertinya kini penipu sudah sedikit bermodal. Mereka tidak hanya menghubungi calon korban melalu sms, namun mereka menelpon dan mengaku dari sebuah instansi atau perusahaan. Hari ini saya mengalaminya sendiri. Sekitar pukul 11.30, telephon rumah saya berdering, setelah saya angkat, ternyata ada suara merdu dari seorang wanita di seberang telephon sana. Saya lupa namanya, namun yang jelas dia mengaku dari Telkom Sidoarjo dan mengatakan bahwa nomor telephon rumah saya masuk dalam daftar pemenang Telkom Rejeki Tumpah. Kemudian dia meminta saya untuk menghubungi Drs. H. Indra Kusuma dari Telkom Jakarta dengan nomor 021 506 38081.
Saya ragu, dan memutuskan untuk menghubungi Telkom 147, dan keraguan saya terjawab. Kabar hadian tersebut ternyata hanya isapan jempol belaka, dan pihak Telkom meminta untuk mengabaikan hal tersebut. Saya masih penasaran, kemudian saya mulai mencari nama Drs. H. Indra Kusuma di search engine google.com, dan saya mendapati dua blog yang menceritakan cerita serupa dengan pelaku yang sama juga. Di antaranya http://gedex.web.id/archives/2008/03/24/penipuan-berkedok-undian-motor-telkomsel/?cp=2 dan http://tycanaya.blogspot.com/2010/05/kadal-dikadalin.html . monggo dibaca jika penasaran.
Saya hanya ingin menghimbau pada pembaca semua, jika mendapat telephon berhadiah, lebih baik menghubungi perusahaan yang bersangkutan untuk memastikan kejelasannya, agar tidak terjadi hal-hal yang pasti tidak diinginkan. Karena penipu yang menghubungi lewat telephon ini sungguh sangat meyakinkan.
Bersyukur saya lepas dari penipuan. Semoga yang menipu saya dilancarkan rejekinya, jadi tidak akan menipu orang lagi.amin ^^