27 April 2011

rheesma.blogspot.com

Ada sesuatu yang menguat ketika membaca sebuah novel karya Risma Budiyani dengan judul The Chosen Prince. Novel yang bercerita tentang seorang gadis bernama jasmine yang dituntut untuk menemukan pendamping hidupnya. Padahal saat itu Jasmine baru berusia 25 tahun.

Kisah novel ini diawali dengan Jasmine yang amat mencintai seorang lelaki yang dia kenal dari dunia maya. Lelaki itu bernama Saiful Malook. Setelah sama sekali tiada kabar dari Saiful Malook, hati Jasmine benar-benar hancur karena merasa ditinggalkan bergitu saja. Saiful Malook tidak kunjung muncul di dunia maya.

Ditengah badai Saiful Malook, datanglah seorang pria berkebangsaan Kenya bernama Rasyid Karenga.. Dia adalah pemuda yang berasal dari Malindi, dan merupakan anak dari saudagar kaya di sana. Pria ini pernah muncul dalam mimpi Jasmine, dan ternyata benar, Rasyid datang dengan setiap sudut yang sama persis dengan pria yang muncul dalam mimpinya. Awalnya, Jasmine berharap pria tersebut merupakan The Chosen Prince yang dipilihkan Allah untuknya, namun sayang Rasyid beberapa tahun lebih muda dari Jasmine.

Di awal pertemuan, Rasyid Karenga langsung jatuh hati pada Jasmine. Baginya, Jasmine merupakan wanita terindah yang dia temui. Namun sayang, Jasmine menolak Rasyid ketika dia mengatakan “Would you marry me?”. Dengan alasan, Rasyid terlalu muda untuknya, dan Jasmine menginginkan imam dalam keluarganya nanti adalah orang yang lebih tua darinya, bukan seorang anak bau kencur. Namun Rasyid berjanji akan menunggu Jasmine sampai kapan pun.

Usai kuliah, Jasmine bekerja di sebuah perusahaan shipping ternama. Dia menikmati pekerjaannya dan masa lajangnya tanpa kekasih. Belum ada lelaki yang dicintai Jasmine setelah Saiful Malook, meski Jasmine sudah mulai sedikit demi sedikit melupakannya.

Usia Jasmine yang kian bertambah, membuatnya dituntut untuk menemukan pendamping hidup. Banyak sindiran, nasehat, dan lainnya menerpa Jasmine. Jasmine pun mulai enggan menghadiri pesta-pesta pernikahan, karena hal tersebut semakin membuat dadanya sesak.

Jasmine tidak hanya bekerja di perusahaan shipping tersebut. Suatu waktu, Rasyid kembali menghubungi Jasmine, namun kali ini bukan untuk urusan hati dan cinta, melainkan untuk sebuah proyek pegiriman barang.

Diceritakan, Rasyid mengelola sebuah pusat perbelanjaan milik ayahnya, dan dia bertekad untuk mengembangkannya sepesat mungkin. Karena itu dia ingin barang-barang dari luar negeri juga dijual di siitu. Dan dia meminta Jasmine untuk menjadi partner kerjanya. Proyek pengiriman barang memang bukan pekerjaan Jasmine, namun Jasmine menerimanya karena Rasyid amat percaya pada Jasmine, dan meyakinkan Jasmine bahwa dia bisa melakukakannya.

Hubungan kerja antara Rasyid dan Jasmine tidak berlangsung lama. Hubungan kerja itu terputus karena lagi-lagi Rasyid mengungkapkan perasaannya pada Jasmine. Padahal Jasmine mengira bahwa hubungan kerja ini benar-benar murni hubungan kerja dan tidak ada maksud lainnya. Sejak saat itu, Jasmine tidak lagi mengurusi pengiriman barang ke Malindi. Dan hubungan mereka berdua kembali berjauhan meski tidak bermusuhan.

Kemudian, Jasmine bertemu dengan Mike Carlos. Seorang pria berumur 35 tahun. Dia adalah muslim Afro-Amerika berkulit hitam. Pertemuan mereka merupakan ketidaksengajaan. Mereka bertemu di masjid Istiqlal. Mike yang tidak sengaja menabrak Jasmine kemudian tertarik pada Jasmine, lalu dia memberikan kartu namanya, namun sayang Jasmine hanya memberikan email pada Mike.

Di tengah kesibukan Mike Carlos, dia tidak kunjung dapat melupakan Jasmine. Akhirnya Mike memutuskan untuk mengirimkan sebuah email pada Jasmine. Dari situlah, mereka berdua saling berkirim email. Mike selalu memberikan banyak pertanyaan dalam emailnya. Dan menurut Jasmine, pertanyaan-pertanyaan iitu tidak wajar, namun Jasmine tetap membalasnya dengan suka hati.

Sampailah pada Mike yang akhirnya mengungkapkan perasaannya pada Jasmine. Jasmine terkejut dengan apa yang dikatakan Mike. Namun Jasmine masih mempertimbangkan Mike untuk menjadi pendampingnya. Kemudian, Jasmine meminta Mike untuk datang kerumahnya. Tak hanya orang tua Jasmine yang menemuinya, namun Pakde bude Jasmine juga turut andil. Kisah mereka tidak berjalan mulus. Mike dan Jasmine sempat berpisah karena suatu hal yang belum bisa diterima Jasmine.

Suatu hari, Rasyid Karenga mengirim sebuah email pada Jasmine. Dalam emailnya, Rasyid mengatakan bahwa dia akan menikah dengan Dalila. Seorang gadis cantik putri dari saudagar di Mombasa. Namun, hati Rasyid seketika amat sakit ketika tau bahwa Jasmine ternyata bahagia mendengar kabar pernikahan itu, bukan sebaliknya. Hati Rasyid amat sakit, namun dia tak bisa berbuat banyak. Demi ayahnya yang sedang sakit dan memintanya segera menikah, Rasyid pun menurut saja.

Jasmine tidak lagi bekerja di perusahaan shipping, namun sekarang dia bekerja di sebuah kantor berita dan berada di bagian marketing. Dia benar-benar menikmati hidupnya kali ini. Apalagi ibunya tidak lagi memintanya untuk menikah.

Namun, di suatu malam. Hati Jasmine begitu galau. Tiba-tiba dia teringat kembali pada perkataan ibunya yang meminta dia untuk membuka hati lagi. Pikiran Jasmine seketika terasa penuh, dan dia memutuskan untuk sholat malam dan meminta pada Allah untuk memberitau siapa The Chosen Prince yang sedang dipersiapkan oleh Allah. AJaib, setelah berdoa, tiba-tiba ponsel Jasmine berbunyi dan dering itu berasal dari Mike Carlos. Lelaki muslim Afro-Amerika yang sudah beberapa bulan tidak menghubunginya, tiba-tiba kembali menelpon.

Dalam telpon, Mike Carlos tidak hanya menanyakan kabar Jasmine, gadis cantik yang tidak bisa dilupakannya, dan membuatnya ingin menghubunginya malam itu. Malam itu Mike kembali mengungkapkan isi hatinya. Dia benar-benar mencintai Jasmine karena Allah dan ingin meminangnya.

Dayung bersambut, kali ini Jasmine tidak lagi ingin menyiakan apa yang diberikan Allah untuknya. Pria baik yang hanya saja memiliki masa lalu suram. Setiap manusia punya masa lalu, dan Jasmine sadar bahwa dia telah jatuh cinta pada Mike Carlos, lepas dari masa lalunya.

Selapas itu, mereka pun mulai mengatur persiapan pernikahan, mulai dari tanggal dan lain sebagainya. Lebih tepatnya Jasmine yang menyiapkan.

Rasyid Karenga, seorang suami dari Dalila yang masih belum juga mampu melupakan sosok Jasmine pujaan hatinya. Bahkan dia meceritakan perihal Jasmine pada Dalila dan menamai putri pertama mereka dengan nama Jasmine. Dalila yang begitu mulia hatinya tidak pernah marah akan hal tersebut. Bahkan dia menyarankan pada Rasyid untuk menemui Jasmine dan sekali lagi mengatakan tentang perasaannya. Rasyid pun menurut. Akhirnya Dia pun terbang ke Jakarta untu menemui Jasmine.

Menjelang hari pernikahannya, Jasmine dikejutkan dengan kedatangan Rasyid Karenga ke rumahnya. Dia tidak pernah mengira bahwa Rasyid akan kembali lagi ke Jakarta. Sekali lagi Rasyid menyatakan perasaannya pada Jasmine. Betapa terkejut Jasmine. Dia merasa telah menyakiti seorang wanita dibelahan bumi yang lain, di Malindi. Membuat seorang Rasyid Karenga tidak pernah menyediakan tempat untuknya. Terang saja Jasmine menolak dan meminta Rasyid untuk tetap mencintai Dalila, dan jangan lagi mencintai dirinya.

Setelah pertemuannya dengan Rasyid saat itu, Jasmine mulai menjada jarak dengan Rasyid. Rasyid pun kembali ke Malindi dengan hati yang hancur. Namun, dalam perjalanan pulangnya, Rastid tak sengaja bertemu dengan Mike Carlos yang sedang dalam perjalanan menuju Jakarta untuk menikahi Jasmine. Dalam pertemuan singkat itu, mereka saling berkenalan dan bercerita perihal urusan masing-masing, kemudian saling mendoakan satu sama lain.

Sampailah pada hari pernikahan Jasmine. Mike Carlos mengucapkan kalimat akad nikah, dan sekarang Jasmine sepenuhnya milik Mike, begitu pula sebaliknya. Tak henti-hentinya Jasmine berucap syukur pada Allah. Karena setelah dia laru dalam penantiannya bertahun-tahun, akhirnya The Chosen Prince yang dipersiapkan oleh Allah datang dan memberikan cinta karena Allah.
(kurang lebih, seperti itulah kisah dalam novel The Chosen Prince)

Dari Saya:

The Chosen Prince. Sebuah novel dari Risma Budiyani. Novel yang isi ceritanya ingin mengingatkan kita bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu. Jodoh, mati, dan rejeki hanya dia yang mengetahuinnya. Sekeras apapun kita memaksankan kehendak, kalau memang bukan milik kita, maka tidak akan menjadi milik kita. Namun sebaliknya, jika sesuatu itu memang sudah menjadi hak kita, biar dijauhkan sejauh apapun, maka dia akan kembali mendekat. Hanya doa, usaha, dan sabar yang harus dilakukan.

Bagi kawan yang belum mendapatkan jodohnya, tunggulah, namun juga berdoa dan minta pada Nya. Hati akan lebih tenang, percayakan semuanya pada Allah, dan Allah akan memberi yang terbaik pada waktu yang baik pula. Every Woman has their own chosen prince from Allah SWT.

“Allah tidak menghendaki terjadinya kesulitan pada hambaNya” Qs. Al-Maidah : 6

25 April 2011

google.com

Kita manusia sering sekali dihadapkan pada masalah-masalah duniawi. Mulai dari masalah materi, cinta, hubungan dengan orang disekitar, dan masih banyak lagi. Reaksinya pun bermacam-macam. Ada yang tetap sabar dan terus berusaha disertai dengan berdoa, ada juga yang tak henti-hentinya mengeluh, ada yang hanya memikirkan namun tidak melakukan apa-apa, ada juga yang memilih jalan pintas yaitu mengakhiri hidup, menganggap bahwa setelah hidupnya selesai, maka tidak akan ada masalah lagi. Sungguh manusia yang tidak bertanggungjawab.

Sebagai manusia biasa, wajar saja jika mengeluh ketika ada musibah yang menimpa. Namun sebagai manusia yang berfikir, seharusnya mau merenungkan apa maksud dari semua yang terjadi, apa hikmah yang bisa diambil dari situ.

Kadang manusia tidak ingat sama sekali tentang hal itu. Kita disibukkan dengan berbagai macam pikiran negative buatan sendiri yang tidak menentu, bahkan terjebak di dalamnya sehingga membuat hidup ini terasa semakin berat. Ketika hidup terasa semakin berat maka pikiran juga akan semakin sempit, kemudian diikuti dengan hati yang tak lapang. Sungguh tersiksa jika berada dalam keadaan seperti itu. Semua yang ada disekitar adalah salah, tidak jalan keluar, semua jalan buntu. Dan kita tetap ditempat.

Namun berbeda jika kita mau berusaha sekeras mungkin dan berserah diri pada sang Penguasa Hidup. Dia telah mengatur semuanya tanpa terkecuali, sedetil-detil rencana manusia, rencana Nya akan lebih detil dan pasti terbaik. Semua yang ada di dunia ini milik Nya termasuk kita, maka kita kembalikan semuanya pada Dia.

Tak perlu kita terus melampiaskan amarah secara berlebihan, dengan dalih untuk menghibur diri, toh semua itu tidak akan menyelesaikan masalah. Menangis, mengeluh, tidak terima, kecewa itu wajar, itulah manusia normal. Namun tak akan baik jika selamanya seperti itu.

Coba minta petunjuk-Nya, dekatkan diri pada-Nya, mengeluhlah pada-Nya, curhat saja pada-Nya, maka semua masalah hidup akan aman terjaga rahasianya. Memikirkan jalan terbaik untuk menyelesaikan permasalahan hidup melalui diskusi dengan sang Khalik akan lebih terasa nyaman. Dan alangkah lebih baik jika kita menghindarkan diri dari pikiran-pikiran negative yang membuat segalanya menjadi bertambah sempit. Sungguh, Allah tidak akan pernah memandang sebelah mata usaha hambanya. Dan ketika kita mau berusaha untuk mengubah nasib maka Allah akan mengubahnya sesuai dengan apa yang terbaik untuk kita.

Jadi bagi kawan yang sedang dirundung kesulitan, kesedihan ataupun kesusahan. Sabar dan tetap tawakal, percaya saja Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya. Dan tenang, semua yang memang menjadi hak kita pasti tidak akan terlewatkan. Bahkan makhluk terkecil pun di dunia ini, sudah diatur segalanya. Tinggal bagaimana kita menjalani dan apa yang bisa kita dapatkan dari situ.

Karena hidup itu tentang apa dan bagaimana.


Sidoarjo, 25 April 2011

22 April 2011


Bulan April ini, bioskop Indonesia tidak hanya diramaikan dengan film-film Hollywood, ataupun film-film Indonesia yang berbau sensualitas mistis, namun ada sebuah film garapan anak bangsa yang mampu menyedot ribuan penonton dalam waktu lima hari (menurut websitenya begitu).

Seorang sutradara yang juga menggarap film Ayat-Ayat Cinta. Yupz, sebuah karya terbaru dari Hanung Bramantyo yang sempat mengundang reaksi dari Banser NU karena dinilai mendiskreditkan sosok Banser, dan mereka mengecam film tersebut. Namun, sampai tanggal 22 April, film itu masih tayang di bioskop dan masih banyak pula peminatnya. Film ini berjudul Tanda Tanya “?”

Menurut saya, film ini tidak mendiskreditkan siapapun. Toh itu adalah masalah pribadi seorang banser, bukankah banser juga manusia yang berhak memiliki masalah hidup layaknya manusia biasa. Apa masalah pribadi satu orang banser, menggambarkan bahwa seperti itulah semua banser? I don't think so…

Saya bukan mau membahas tentang reaksi para banser terhadap film tersebut. Saya hanya ingin mengatakan bahwa film ini bagus. Why not? Di tengah kericuhan tentang teroris, tentang bom, tentang perselisihan antar umat beragama, film ini muncul dan hanya ingin mengatakan bahwa perselisihan itu tidak perlu.

Kembali pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial, mereka tidak mungkin hidup sendiri. Manusia pasti bermasyarakat, dan di dalam masyarakat ada banyak golongan, suku, agama, dan lainnya. Sebagai makhluk sosial, manusia harus mau saling membantu, tidak peduli  beragama lain atau bersuku bangsa lain. Setiap manusia harus memiliki sikap toleran dan pengertian jika ingin dimengerti oleh yang lain. Dalam beragama misalnya, ketika ada Agama yang merayakan hari besarnya, tak usahlan membuat rusuh atau memaki-maki. Cukuplah diam, biarkan mereka dengan keyakinannya. Sebagai warga di Negara yang katanya beradab, harusnya bisa menghargai hak asasi tiap orang, toh hal tersebut sudah ada dalam undang-undang.

Film ini hanya mau mengingatkan pada para penontonnya bahwa kita makhluk sosial dan pasti memerlukan orang lain. Tidak penting siapa kuat siapa hebat, tetap harus saling membantu dan menghargai.

Namun ada sedikit pertanyaan yang mengganjal. Dalam film tersebut, ada sebuah cerita, seorang muslim yang diminta dan dibayar untuk berperan sebagai Yesus dalam sebuah drama malam pasca. Apakah di perkenankan hal semacam itu?

Memang benar dia membantu, namun dia memerankan Tuhan dari agama lain. Memang hatinya tetap teguh dalam islam, namun bukankah itu berarti mengakui keberadaannya (yang lain)??

Jika membantu dalam bentuk sosial, mungkin saya masih mengerti. Jujur, saya sedikit bingung dengan hal itu. Jika ada yang membaca posting ini, dan berkenan menjawab, monggo di jawab. Terimakasih.

NB: Jika ada yg tidak berkenan, mohon dimaafkan. :)



Trailer Film '?' - You Tube