27 May 2011

Pagi ini aku melihatnya di taman depan rumah. Menenteng sebotol yogurt. Duduk diam. Menatap langit luas nan biru. Tersenyum.

Dia tampak cantik, menenangkan. Saat itu ada desir dalam hatiku karenanya.

Esoknya, aku melihat gadis itu lagi di taman depan rumah. Seperti kemarin. Menenteng sebotol yogurt. Duduk diam, menatap langit, dan tersenyum.

Sejak saat itu aku yakin, ada sesuatu yang maha indah di atas sana. Seperti dia. Indah.

Kini aku jadi hafal, duduk di taman dan menenteng sebotol yogurt sudah seperti ritual baginya. Dan aku selalu menanti hal itu. Melihatnya dibalik tirai kamar.

Ingin aku mendekat. Memulai kata demi kata dan berharap kemudian menjadi cinta. Ahh tidak, gadis secantik dan setenang dia, mana mau mengenal seorang perokok candu. Batinku. Asap ini pasti mengganggunya.

Semalaman ini, tak habis-habis aku memikirkannya, bagaimana memulai kata dengannya, apa yang harus kulakukan ketika di depannya. Beribu pertanyaan beradu diotakku. Mungkin sudah seperti asbak yang kini tergeletak di depanku. Penuh.

Apa aku mencintainya?

Pagi ini,aku tak ingin membuang waktu percuma. aku memberanikan diri melangkah mendekatinya. Menenteng sebotol yogurt, seperti kebiasaannya.

"Hai!" sapaku lembut.

"Ssstts, jangan berisik. Tunggu anakku datang mengambil ini." Memperlihatkan yogurt miliknya padaku. "Dia tak berani jika ada banyak orang. Dia pemalu"

24 May 2011


Dear Diary,

Hari ini akhir November, dan hujan. Mungkin akan reda nanti sampai awal Desember, dan itulah saatnya. Saat aq melupakan rasa, cinta, dan segala tentangmu. Aku tau itu sulit. Seperti hujan yang turun hari ini, sangat deras, seakan sulit reda. Tapi aku harus pergi. Karena aku telah curang dengan seorang wanita di sana, mencintai apa yang tak seharusnya.

Maaf aku mencintai milikmu, tetapi aku janji, aku akan segera pergi dan lenyap. Aku sungguh mengutuk rasa ini, dan tidak ingin lagi kupelihara.

Sebuah cinta yang tidak kusengaja, aku tak pernah mengharapkan cinta ini hadir, tapi dia terus ada mendekat. Seperti mimpi. Aku pernah berharap bersanding dengannya. Entah terlambat atau tidak, yang harus aku lakukan adalah pergi sejauh-jauhnya, dan hanya terus bermimpi.

Kupejamkan mata, dan berkali-kali menahan nafas. Menguatkan diri atas cinta yang tidak akan pernah kumiliki.

Wahai seorang wanita cantik di sana, kau beruntung mendapatkannya. Namun aku juga beruntung, karena bisa mengenal dan mencintainya, itu sudah lebih dari cukup.  Tuhan masih menyayangiku, karena Dia menahanku dan tidak membiarkanku menjaga cinta yang tidak seharusnya ada. Bintang itu untukmu, cantik. Karena itu aku berkata kau beruntung.

Dadaku bergetar. Jangan menangis. Batinku. Kucoba menguatkan hati. Kugenggam erat  mouse yang sedari tadi berkedi-kedip cantik dengan aneka warnanya. Menggoda. Namun kucoba meneruskan isi catatan harianku malam ini. Setidaknya aku mengabadikan rasa ini pada sebuah coretan.

Kau tau? Karena aku juga akan mendapatkan bintang seperti yang kau miliki sekarang. Berbahagialah bersamanya.

Kututup diaryku. Kemudian mematikan laptop yang kini keyboardnya mulai basah karena airmataku yang tak bisa kutahan. Aku menunduk. Mencoba meringankan hati yang begitu berat meninggalkan cinta.

Kuambil handphone, dan kukirim sms padanya. “Besok aku akan terbang jauh dari sini. Semoga kita tak bertemu lagi.”

23 May 2011

Di bawah langit Tuhan kini aku menengadah. Wajahmu tersusun apik dari tiap gumpalan awan yang melayang. Kukerjapkan mata, namun wajahmu tetap di sana. Iya. Mungkin Tuhan tau aku sedang merindumu, sehingga Dia berbaik hati memunculkan wajahmu. Terimakasih Tuhan. Bisikku.

Kemudian, alam bawah sadar membawaku pada cerita setahun silam. Awal pertemuan kita. Aku begitu mengagumimu.


Kau lelaki pertama. Tak pernah menyentuhku. Namun kau merengkuhku dengan ketaatanmu, ucapmu, cara pikirmu, dan mimpimu.

Dan entah pada detik ke berapa dalam hidupku. Aku jatuh cinta padamu. Berjanji menemanimu, merindumu, menyayangmu, dan setia padamu.

Dan kau juga berjanji hal yang sama padaku.

Kututup wajahku. Tersipu. Seperti aku sedang mengalaminya. Cerita setahun lalu.

Kau membuatku tak pernah menyesal mencintaimu. Dan tahta ini tak akan terganti oleh lelaki manapun. Kau lelaki pertama dan terakhirku.

Tak terasa kristal cair milik Tuhan tergenang di mataku. Kudekatkan wajahku. Tersenyum. Hangat, meski hanya sebuah pusara kaku.

Aku mencintaimu.

20 May 2011

Dia selalu datang terlambat. Wanita cantik yang di tangan kanannya pasti bertengger sebotol yogurt. Tergopoh, berlari kecil menuju mejanya. Entah sejak kapan hatiku telah tertambat padanya. Tapi apa dia juga begitu padaku? Seorang perokok berat.


*dalam alam pikir lain*


Dia selalu datang tepat waktu. Lelaki hitam manis yang selalu meminta OB membelikannya 3kotak rokok setiap hari. Penuh wibawa dan selalu bersikap tenang di balik mejanya. Entah sejak kapan hatiku dicuri olehnya. Tapi apakah aku sanggup mencuri hatinya? Seorang yang teledor dan tidak pernah tepat waktu.

17 May 2011

Seperti biasanya. Kuparkir mobilku di ujung jalan. Jalanan menuju rumahnya terlalu sempit untuk dilalui mobil. Tak apalah, asal aku bertemu dengannya, berlari pun aq rela.

Seperti orang gila. Aku tersenyum sendiri sepanjang dari ujung jalan. Berkali-kali melihat 2 botol yogurt yang ada ditanganku. Ini tak boleh tertinggal. Wanita pujaanku di sana amat menyukainya. Menyehatkan katanya. Tak lupa kuselipkan rokok di saku jaket paling dalam. Dia tak boleh tau kalau aku belum berhenti merokok. Bisa marah seminggu dia. Ahh, dia memang tau yang baik untukku.

Aku buyarkan lamunanku tentang dia. Kupercepat langkahku. Dan terus tersenyum.

Keringatku mulai bercucuran. Jarak rumahnya dengan ujung jalan memang jauh. Tapi seperti kataku tadi. Aku rela-rela saja, asal itu untuk dia.

Kini aku berada di depan rumahnya. Rumah wanita yang sedari tadi telah membuatku gila, membuatku hanyut dalam cintanya, dan membuatku rela melakukan apapun untuknya.

Pelan, kubuka pintu pagar. Kudapati dia sedang berdiri di beranda rumah. Ahh,dia telah menungguku.

Namun, dia tak sendiri. Seorang lelaki tampan dan tinggi gagah tepat berdiri di depannya.

Mereka berciuman.

16 May 2011

Kuingat betul, aku bertemu dengannya satu tahun lalu. Di kota kami. Kota penuh kenangan manis berbubuhkan pahit. Aku selalu rajin tertawa mengenangnya, senyumnya, tutur katanya, jalan pikirannya, dan semangatnya. Dia yang selalu jauh dari kata negatif, mampu membawaku larut dalam aliran positif miliknya.

Sebagai manusia, dia sempurna.

Andai dia di sini bersamaku, pasti senang melihat sebotol yogurt di tangan kananku. Aku kini rajin meneguknya di tiap pagi, sayang. Hanya untukmu. Kau senang?

Tapi dia pasti sekaligus membenciku. Kini disela-sela jemariku, ada lintingan berasap. Kau marah, sayang?

Aku sudah berusaha menjauhi benda kecil menenangkan ini. Tak pantas perempuan menghisapnya. Begitu katanya. Sampai akhirnya kami akan tidak bertegur sapa selama satu jam saja. Ahh, dia memang paling tidak bisa jauh dariku. Aku tertawa.

Tapi, andai malam itu dia tak memperkarakan besar lintingan berasap ini. Tak usah mengibaratkan kami layaknya smoke and yogurt yang berada pada rel berbeda. Pasti aku tak kan duduk di cafe ini mengenangnya.

Lihatlah, kini keduanya masing-masing bertahta di tangan kanan-kiriku.

Bagaimana kabar istrimu?

photo. Media Indonesia

Hari ini, tanggal 16 Mei 2011 merupakan hari yang paling bersejarah bagi siswa-siswi SMA se-Indonesia. Mengapa? Karena, hari ini adalah pengumuman mereka dinyatakan lulus atau tidak. Dari kemarin (15/5) sudah banyak media yang menghembuskan kabar tentang kenaikan prosentase kelulusan SMA/SMK.

Dan nyatanya, hari ini kabar baik lebih banyak menghiasi pemberitaan di media, terutama media elektornik. Bermacam-macam reaksi ditunjukkan oleh para siswa  tersebut. Ada yang pingsan karena terlalu senang, ada yang menangis, ada yang langsung sujud syukur, ada yang mengumpulkan uang untuk disedekahkan sebagai tanda syukur mereka atas kelulusan ini, dan tidak sedikit juga yang melakukan aksi konvoi serta corat-coret baju.

Namun sayang sekali, ditengah sorak-sorai kabar kelulusan SMA/SMK 2011, ada juga siswa-siswi yang tertunduk kecewa, menangis karena sedih, dan pingsan karena tidak sanggup menerima kenyataan bahwa mereka dinyatakan tidak lulus dalam ujian nasional tahun ini.  Sungguh kasian. Berdiri diantara teman-temannya yang tertawa karena lulus dan dia harus menangis karena gagal.

Pasti kecewa, saya tau bagaimana rasanya tidak termasuk dalam golongan yang berbahagia karena lolos (tapi saya lulus SMA lho..). Tapi tenang. Itu hanya bagian dari sebuah proses yang dilalui manusia. Bukannya dalam hidup ini cuma ada dua pilihan. Lolos dan Tidak Lolos.

Pesan saya,

Bagi siswa yang tidak lulus dalam UN 2011, tenang saja, bukankah setiap tahunnya ada ujian paket A? (kalo g salah itu namanya). Jadi, setidaknya masih ada kesempatan untuk lulus. Meski tidak bersama-sama dengan teman sebayanya. Terus berdoa dan bersemangat ya. Karena pasti ada sesuatu yang direncanakan sang Pencipta, tak ada yang kebetulan.

Bagi siswa yang lulus, jangan senang dulu. Masih ada SPMB yang menanti di depan mata. Selamat ya atas kelulusannya, dan berbahagialah, tapi jangan berlebihan. Karena perjuangan tidak hanya sampai pada lulus SMA, tapi masih ada ujian-ujian lain yang menanti. Tetap berdoa, berjuang, dan selalu bersyukur.

Kalau boleh berpendapat. Tidak perlu lah berkonvoi ria, atau corat-coret baju seragam. Masih banyak hal positif yang bisa dilakukan dalam merayakan kelulusan. Seperti guru-guru di SMA pada umumnya, selalu menyarankan, lebih baik baju seragam itu disumbangkan pada mereka yang membutuhkan. Dan
hematlah bensin dan jaga polusi. Dari pada konvoi, bikin macet jalan, mengganggu kenyamanan pemakai jalan, dan sampai ditempeleng polisi. Lebih baik segera pulang, say thanks to your parents. Karena doa orangtua pasti selalu mengiringi putra-putrinya.

SELAMAT YA UNTUK YANG LULUS!!!! ^^/

Sebotol yogurt selalu menemaniku dalam perjalan ke kantor. Seperti biasa. Kubuka tutupnya, kemudian meneguk hampir separuh isinya. Apa kita sedang meminumnya bersamaan? Semoga begitu. Teringat tentang betapa susahnya aku mengenalkanmu pada yogurt, dan memintamu meninggalkan lintingan-lintingan tembakau yang selalu terselip disaku celanamu. Ahh, tapi itu dulu. Semoga kau menepati janjimu. Meski kau jauh. Di Papua. Aku tersenyum. Kuhabiskan sisa yogurtku dalam sekali teguk.



*di tempat lain….



Sebotol yogurt selalu setia menungguku dalam lemari es setiap pagi. Kubuka tutupnya, kemudian meneguk isinya hingga tandas tak bersisa. Apa kita sedang meminumnya bersamaan? Kuharap begitu. Selalu teringat bagaimana gigihnya usahamu mendekatkanku pada yogurt, dan memintaku membuang lintingan-lintingan tembakau yang tersimpan manis di saku celanaku. Aku tersenyum. Melirik botol-botol yogurt yang masih menunggu gilirannya untuk kuminum. Disini sulit menemukan minimarket, aku harus membeli banyak botol untuk menepati janjiku. Meski jauh, di Papua.
“Sudah kamu putuskan?” suara ibuku mengejutkan. Sampai-sampai aku hampir terjatuh dari atas jendela. Kebiasaanku dari kecil, ketika aku mulai merasa galau.

“Apanya bu?”

“Hendrik, siapa lagi?”

Aku membuang pandang ke halaman rumah. Diam. Aku bosan dengan pertanyaan ibu. Kenapa dia selalu memintaku putus dengan Hendrik. Alasannya saja konyol. Sudah berbulan-bulan pertanyaan itu seliweran di telingaku, tapi aku selalu menjawabnya dengan diam.

Kutarik nafas dan menahannya beberapa detik. Kuangkat kakiku. Menapaki lantai rumah. Mendekati ibuku. “Ibu kenapa tow?” tanyaku mencoba lembut.

“Lhow, kok malah tanya. Ibu kan sudah berkali-kali minta kamu putus sama Hendrik!”

“Iya, tapi kenapa bu?” suaraku mulai serak. Hampir terisak. Kutahan.

“Dia sama kamu itu beda, nduk!”

“Apanya yang beda?” teriakku kesal.

“Dia China!”

“Tapi islam!”. “Apa yang salah dengan China? Mereka baik. Nggak pernah membedakan.”

“Memang kamu tau keluarganya baik?”. “Di depanmu?”

Ibu tertawa sinis. Berlalu dari hadapanku, dan menghilang di balik pintu dapur. Aku menunduk. Mencari kursi, dan menghempaskan badanku di atasnya. suara gerutu ibu masih terdengar. Memberikan sumpah serapah pada mas Hendrik. Mataku panas. Pedih, bingung, heran, teraduk-aduk dalam hatiku. Dijaman semodern ini, masih membedakan etnis?

Jika ibu tau perasaanku. Bagai memakan buah simalakama. Aku ingin patuh pada ibu, tapi aku juga mencintai mas Hendrik. Kututup wajahku. Kutahan nafas, dan setitik air mata bertengger disudut mata.

Sudah hampir sebukan aku tak bertemu mas Hendrik. Mencoba mematuhi ibu. Tapi ibu tak mengerti aku. Percuma.

kudengar suara pintu diketuk. Aku menengok, dan kulihat seorang lelaki bermata sipit sedang berdiri menunduk di bibir pintu. Aku tersenyum. Bangkit, segera menghampirinya.

“Mas Hendrik?”

Dia hanya membalas senyuman. Mengelus rambutku. Ingin rasanya kukatakan rinduku. Apa kabar, mas? Naik apa kesini? Ada apa? Banyak pertanyaan yang berebut ingin keluar dari mulutku. Hingga tak satupun yang meluncur.

“Mungkin kamu benar, hubungan ini seperti rokok dan yogurt. Tak mungkin berada di satu jalan” tuturnya dengan wajah yang sangat datar. Masih berdiri di bibir pintu. Aku bingung. Kenapa ini? sebulan tak bertemu, tak rindukah? Kenapa malah mengatakan hal sekonyol itu?

Mas Hendrik mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat. Bersih tanpa tulisan di depannya.

“Maaf ya!” kata terakhir darinya. Kemudian pergi begitu saja. Hanya meninggalkan amplop coklat dan sejuta tanya.

Perlahan kubuka amplop itu, mengeluarkan isinya. Kubaca. “Hendrik & Veni”.

Hari ini seperti biasa. Dia masuk dan segera ke rak yogurt. Mengambil satu botol, kemudian menuju ke mejaku untuk membayar dan meminta satu bungkus rokok.

“Hanya ini saja, mas?” pertanyaan standart yang dilontarkan setiap kasir pada pembeli yang akan membayar.

“Iya”

Aku meneruskan pekerjaanku. Memasukkan barang dalam tas plastic putih, kemudian memberikan uang kembalian padanya.

“Silahkan datang kembali!” kalimat standarisasi semua supermarket.

Aku memperhatikannya. Mulai dari dia keluar minimarket hingga dia masuk ke dalam mobil, dan berlalu meninggalkan asap knalpot. Ahh dia orang kaya. Pelanggan supermarket ini. Dan aku hanya seorang kasir yang menghidupi lima orang adik. Lelaki mana yang mau melirik.

Aku tertunduk. Pungguk merindukan bulan. Batinku.

Tak biasanya aku memperhatikan pembeli. Menghafal setiap barang yang dibeli. Ahh mungkin hanya kebetulan saja aku ingat, karena hanya itu-itu saja yang selalu dia beli.

Esoknya dia datang lebih pagi. Aku terkejut. Saat itu aku sedang merapikan barang.

“Pindah bagian, mbak?”

“Oh, nggak mas, ini sedang bantu  yang lain.”

Dan lagi, aku membungkus sekotak rokok dan sebotol yogurt miliknya. Seperti biasa.

“Suka yogurt, mas?”

“Untuk ngimbangi rokok.” Jawabnya sambil tersenyum. “Yogurt emang asam sih, tapi manis juga kadang.” Masih dengan senyum manisnya.

Dia pergi. Meninggalkan jejak manis di minimarket ini. Selalu begitu.

Ya Tuhan, apa yang kupikirkan, dia orang kaya dan aku kasir. Hanya kasir. Mau apa aku ini berfikir seperti itu. Cepat-cepat kutepis pikiriranku tentangnya. Kembali pada rak yang masih kosong. Kembali bekerja.

Hari ini, seharian aku belum mendapati jejak manisnya di sini. Kemana dia? Apa telah membeli di tempat lain? Atau sudah berhenti merokok? Atau… Aku resah menantinya. Menanti seorang pembeli. Konyol. Banyak pembeli yang lain. Untuk apa menunggunya.

Aku kembali fokus pada komputer. Mendaftar list barang yang masih terbengkalai.

“Nggak nyari saya, mbak?” suara itu mengejutkanku. Aku berhenti menulis, menengok pada sumber suara. Dia disana. Berdiri. Tersenyum menatapku.

“Saya pasti datang untuk beli yogurt manis”

Aku menunduk malu. Menghitung barangnya, dan mengemasnya dalam plastik.

“Silahkan datang kembali!” Tersenyum.

12 May 2011

www.gerund554.wordpress.com

Kini kami berhadapan, mata kami beradu. Bukan tatapan musuh, namun tatapan lembut yang meneduhkan. Sebuah rasa saling menyayangi, dan tak ingin membenci.

“Hari ini aku sudah memutuskan” Rose memecahkan keheningan café tepat di jam 23.00 WIB.

Aku menatapnya tajam, lalu membuang pandang jauh ke sudut ruangan. Sebuah meja bundar berisi dua pasangan cinta yang tengah bermesraan. Tertawa. “Kau memaksakan diri?”

“Tidak!” jawabnya tegas. Kini dengan posisi tangan yang mencekram meja.

Aku begidik melihatnya seperti ini. Orang stress yang tak tau arah. Memaksakan sesuatu yang sebenarnya tidak dari dalam hatinya. Aku tersenyum padanya. Membuat dia sedikit rileks dengan keadaan. “Semua pasti bisa diperbaiki, meski bukan kemauannya kan?”

“Aku juga menginginkan perpisahan ini. Bahkan aku yang ngotot!”

“Percayalah, sayang. Kau tidak akan sanggup jika harus berpisah”

Rose menunduk. Menutup wajahnya. Menangis. Hatiku kemudian juga ikut teriris. Aku tau apa yang dia rasakan. Berpisah dengan orang yang amat dicintai, amat menyakitkan. Suara tangisnya semakin menderu. Namun tetap diredam dengan kedua tangannya. Tak ada yang bisa mendengar, namun aku bisa.

“Aku tau apa yang kau rasakan, Rose!” kini aku berdiri. Mengangkat kursiku, agar sejajar dengannya. Dia tetap asyik dalam dunia tangisnya.

“Kamu nggak tau, menikah saja kamu belum pernah!” bentaknya. “Kamu nggak pernah merasakan, seperti apa dicampakkan dan kehilangan pelukkan!”

Aku tersentak dengan ucapannya. Menyakitkan. Bahkan sampai usia menikahku yang sekarang, aku belum berpikir ke sana. Hanya ada kekasih yang silih berganti. kupejamkan mata. Menunduk.

“Kau tau, Rose? Sometimes, I can feel what you feel, even in a long distance

Kini Rose menatapku.

“Jika kau dicampakkan dan kehilangan peluk. Biar aku disini yang memperhatikanmu dan menjadi tonggakmu ketika kau butuh”. “Karena itulah gunanya sahabat

“Ella?” Rose tersenyum. Dan memegang kedua tanganku. Erat. Seperti mendapatkan kekuatannya kembali.

“Mbak!” “Bisa tambah kopinya dua cangkir lagi?” teriakku pada pelayan café.

11 May 2011

Ahh, ya sudah, untuk apa aku memikirkan lenyapmu. Toh aku tak memiliki perasaan apa-apa. Batinku. Membuyarkan semua lamunan tentangmu. Lamunan? Aku  tertawa dalam hati. Mikir apa aku ini?

Tak kupungkiri, sejak itu. Sejak kau sangat jarang muncul, aku selalu memikirkanmu. Apa yang terjadi? Apakah kau baik-baik saja? Atau ada sesuatu yang membuatmu jauh dariku? Apa aku bersalah? Setiap malam aku mengingatmu. Mengingat tentang kejadian satu tahun terakhir, dan semua jauh dari galau. Semua baik-baik saja.

Kau tak pernah berucap perpisahan, namun kau juga tidak menyampaikan kerinduan. Kadang kau terlalu dingin, sampai aku tidak bisa merasakan apa sebenarnya pintamu. Kuambil nafas panjang, menahannya beberapa menit, dan melepaskannya perlahan. Tapi sayang tak ada beban yang hilang.

“Sudahlah, kenapa harus kamu pikirkan!” nasehat seorang sahabat beberapa waktu lalu, ketika itu aku sudah sangat galau karenamu.

“Bukannya kamu tidak memiliki rasa apapun padanya?”. “Atau?”

Kalimat sahabatku terputus sampai disitu. Kemudian dia menatapku dengan wajah berbelepot curiga beralasan. Aku hanya diam. Menatapnya, kemudian kembali lagi pada layar komputer blank. Aku tak mampu menjawab. Aku pun tak tahu kenapa bisa begini. Bukankah asap dan yogurt memang tidak bisa bersatu? Wajar jika salah satunya lenyap.

Iya. Benar kata sahabatku. Tak perlu aku memikirkannya. Aku tak memiliki perasaan apa-apa. Lalu kenapa aku seperti orang kehilangan?

Berkali-kali kuracuni pikiranku tentang asap dan yogurt. Dua hal berbeda, dan bukan masalah jika salah satunya tak ada. Jika kau tak muncul malam ini, harusnya aku berbahagia, karena tak perlu ada yang mengasapi kehidupanku lagi.

“Asap dan yogurt tak akan bersatu” gumamku berkali-kali. Sudah seperti mantra, namun tak mujarab. Apa aku mencintaimu? Kini kudobel tumpukan bantal yang kubenamkan ke wajahku. Berusaha mengingkarinya. Berlari ke alam pikiran lain, jauh tentangmu.

“Ding” laptopku berbunyi. Ada satu messenger masuk. Nickmu. Aku terkejut. Bangkit. Berlari mendekati meja belajarku.

“Hai, apa kabar? :)” isi pesanmu.
www.im-balance.blogspot.com

Seperti menyusun puzzle
Satu per satu berada pada tempatnya
Nyaris tak terhindarkan

Aku ingin menghilang
Terbang
Lenyap dari semua pandang
Terkepung dalam pekat awan
Tenggelam hingga ke palung lautan

Adakah kau mencariku
Atau cerita ini kau anggap semu

Bukankah cerita telah terpahat seindah patung rama sinta
Secantik dongeng cinderella dan pangeran berkuda
Melegenda layaknya kisah laila majnun
Atau mungkin tak satu pun

Tidakkah semua itu terlalu sempurna untuk kau anggap semu?
Bukankah janji telah terpatri satu?

Oh, mungkin bagimu semua benar tiada bermakna
Seperti puzzle, hanya permainan belaka
Tak butuh dirasa, terlebih dipuja
Kembali pada tempatnya
Berwujud serpihan asa

Bergulung bersama buih di pantai
Menguap bersama embun fajar

Tak ada lagi cahaya yang berpijar
Kisah ini hambar
Aku sungguh ingin menghilang
Terbang, kemudian lenyap dari semua pandang

Sekarang

NB: Beautiful Collaboration Poem Between Seijitsuai and Nadia Maulana

*untuk dandelion-dandelion yang memutuskan untuk terbang...

Banjir. Merupakan sebuah ritual yang amat sangat luar biasa di Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Saking biasanya, sekarang banyak daerah-daerah lain yang mengikuti jejak ritual tersebut. Ritual menyambut banjir.

Lihat saja di televisi. Banyak berita yang mengabarkan tentang daerah-daerah yang tergenang air tidak diundang ini. Di Tuban, Madura, dan tempat lainnya.

Salah siapakah ini?

STOP mencari tersangka untuk dijadikan terdakwa masalah banjir. Coba bercermin!!!

Masih ingat kan, air memiliki sifat menempati ruang. Air mengikuti kemana aliran membawanya. Jika disana ada ruang kosong dan mengalir, pastilah air lebih pilih tempat yang sebebas itu. Tidak hanya manusia yang ingin bebas, air pun juga begitu.

Lalu, kenapa BANJIR?

Ahh, kenapa masih bertanya? Lupakah kalian ketika menjadi amat sangat ringan tangan?

RINGAN TANGAN?

Banjir sangat suka singgah di daerah yang padat penduduk. Mengapa? Karena tingkah polah penduduk itu sendiri yang mengundang banjir. Why not? Baru saja tadi saya melihat seseorang yang dengan amat santai, membuat satu plastik bekas tempat makanan di jalanan. Apa tidak bisa dia menyimpan plastic itu dulu, lalu mencari tempat sampah untuk membuangnya? Iya, memang hanya satu plastic, namun itu dari satu orang. Ada berapa banyak orang yang ringan tangan seperti itu? BANYAK.

Dilain tempat, saya juga pernah menjumpai orang yang membuang sampah satu tas plastik penuh ke dalam sungai. Wow, bisa dibayangkan kan? Jika sebagian besar penduduk memiliki polah sama seperti itu, ya jangan pernah mengeluh jika banjir bertandang untuk sekedar menyapa.

Air banjir juga bingung mau kemana kalau banyak sampah yang memenuhi sungai. Tak usah ambil pusing, karena sungai yang seharusnya menjadi tempat mereka mengalir sudah dipenuhi manusia dengan sampah, maka mereka mengambil alih jalan dan sekitarnya untuk menjadi tempat transit.

Terlebih, daerah yang padat penduduk, pasti juga padat akan pemukiman. Petak-petak sawah saja sudah dirubah menjadi deretan rumah beton berpagar. Tidak berlomba-lomba membuat penghijauan, tapi malah berebut tender terbesar.

Belum lagi pemerintah yang melakukan gerakan penghijauan palsu. Di kota saya, gerakan penghijauan kota dilakukan ketika sudah mau tutup periode. Taman-taman dibuat seindah mungkin. Entah tujuannya apa? Tapi menurut saya, untuk menghabiskan dana sisa periodenya. Sekaligus menanam image, bahwa dia adalah pemimpin yang peduli lingkungan.

Maka dari itu, ayolah bercermin. Apa kita sudah bisa menjaga lingkungan untuk menghindari ritual penyambutan banjir.

Benar saja kalau banjir amat CINTA DAN SETIA menghampiri, lha wong kita TERBIASA mengisi penuh tempat air harusnya mengalir.

09 May 2011


Kamu tau tentang asap dan yogurt?

Dua hal yang sangat amat berbeda, namun jika disatukan, bisa jadi menyeimbangkan.

Asap, anggap saja hal ini adalah rokok. Bukan rahasia lagi, selain polusi, rokok juga menyebabkan penyakit. Dekat-dekat dengan asapnya saja bisa berbahaya, apalagi yang amat dekat dengan sumber asapnya.  Jadi ingatlah tentang bahaya merokok. Mungkin kebanyakan dari mereka para smokers (pria/wanita) menganggap bahwa dengan merokok, maka mereka bisa menghilangkan stress. Tapi menurut saya, itu hanya masalah asumsi.

Ingatkah kita pada coklat? Banyak orang yang mengatakan bahwa dengan mengkonsumsi coklat, maka stress yang duduk manis dalam otak kita, akan beranjak pergi. Karena, coklat memberikan efek rileks. Rasa manis dalam coklat, membuat si pemakan coklat amat menikmati rasa coklat di dalam mulut, sehingga dia bisa sejenak melupakan masalahnya. Belum lagi anggapan-anggapan positif tentang coklat. Anggapan positif akan mengahasilkan pikiran positif, dan efeknya tubuh hanya akan menerima sinyal positif yang dikirim dari otak, jadilah rileks.

Demikian dengan rokok. Ketika orang menghisap rokok, maka dia akan menikmati rokok tersebut, merasa rileks, dan hal itu memberikan efek pada tubuh.

Tapi, lebih baik mengkonsumsi coklat, rasanya manis, dan yang jelas tidak akan membahayakan orang di sekitar kita kan?

Nah, lain halnya dengan Yogurt. Yogurt adalah susu yang dibuat melalui fermentasi bakteri, dan pastinya yogurt sarat akan manfaat untuk kesehatan tubuh.  Betapa tidak? Yogurt kaya akan protein, vitamin B, serta mineral yang pastinya diperlukan untuk tubuh kita. Lagi pula, yogurt bisa diminum oleh siapapun, termasuk mereka yang alergi terhadap susu.

Maka dari itu, saya menyarankan, bagi kalian para perokok untuk mengimbanginya dengan yogurt. Karena yogurt juga bermanfaat untuk mencegah penimbunan toksin. Biasakan saja minum yogurt. Minimal satu kali dalam sehari.

Mungkin awalnya rasanya aneh, karena hasil fermentasi, maka rasanya sedikit asam. Tapi jika sudah terbiasa, pasti akan ketagihan.

Pilih mana?? SEHAT ato SEKARAT??


Entah sejak kapan Indonesia sering dirundung duka. Bersuka cita, mungkin hanya sesekali, selebihnya duka.

Betapa tidak? Pagi ini saja, sudah ada serentetan berita buruk yang menimpa Indonesia. Itu hanya dari satu stasiun televise. Belum lagi, koran Sabtu kemarin yang saya baca. Memilukan.

Baru selesai masalah perompak Somalia yang menyandera ABK Sinar Kudus. Sudah disusul dengan pesawat Merpati yang jatuh di Papua yang memakan 27 korban jiwa. Menurut beberapa sumber, pesawat ini jatuh karena tidak layak pakai. Tidak layak pakai? So, kenapa digunakan? Ini kan menyangkut nyawa puluhan orang di dalamnya. Belum lama,  di Sleman, sebuah pesawat capung jatuh dan menewaskan dua orang.

Belum lagi, hujan yang turun sudah keluar dari jadwal membuat banjir menggenang dimana-mana. Kerusakan jalan yang tidak kunjung diperbaiki sudah menjadi pemandangan ‘indah’ bagi masyarakat. Pengeboman dan teroris kini juga semakin merajalela. Beberapa bom dikirim merata. Masyarakat resah, dan berkali-kali Gegana dipermainkan dengan kotak-kotak kosong yang dikira bom.

Ada juga aliran-aliran sesat yang secara tiba-tiba muncul, dan menyeret sebagian orang dalam kelompoknya. Merubah pola pikir, dan membuat rancu suatu agama.

Kekerasan atau anarkisme juga sudah menjadi hal biasa. Dengan alasan DEMOKRASI. Hahha, mungkin yang ini demokrasi dengan prinsip, sekali bebas, bebas sekali. Tak jarang juga, ibu-ibu yang dengan tega menyakiti anak mereka. Seperti Headline sebuah koran Sabtu lalu. “Bocah dipalu ibunya ketika tidur”. Manusia sudah tidak manusiawi.

Paling heboh, Anggota DPR yang bebas ongkan-ongkang di gedung sejuk. Plesir dengan alasan studi banding, permintaan gedung baru, dan masih banyak lagi tingkah laku mereka.

Ada apa dengan Indonesia? Sedang sakit mungkin. Tapi apa ada dokternya?

Kasian melihat Indonesia yang seperti ini. Pesakitan.

08 May 2011



Hari ini, hari pertamaku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan advertising ternama. Namun, selama dua minggu bekerja, aku tidak merasa sebagai desainer. Aku lebih merasa sebagai kacung para senior. Tak ada perintah untuk mengkonsep iklan atau membuat desain produk. Aku hanya diminta editing foto, mem-print contoh kerja, paling bagus aku diminta membuat efek font.

Mereka tak sedikit pun melihatku, jangankan hanya sebelah mata. Lalu kenapa dulu aku diterima? Tak sekalipun aku merasakan membuat konsep, ikut rapat, ataupun pitching.

Bulan kedua aku bekerja, mereka mencari desainer baru. Kali ini persyaratannya lulusan DKV. Aku tertawa. Karena aku bukan lulusan DKV, aku hanya dijadikan tukang, bukan desainer. Aku benci mereka, aku dendam.
Bulan ketiga, peranku masih sebagai kacung. Sementara desainer junior sudah mulai diajak pitching, minimal mereka ikut dalam pembuatan konsep. Aku semakin murka. Tanpa alasan mereka hanya menjadikanku tukang. Apa-apaan ini? Otakku dipenuhi dengan tanda tanya, dan hatiku diselimuti rasa benci. Sampai bulan ke empat pun aku masih seorang kacung.

Awal bulan ke lima, aku sudah berniat untuk mengundurkan diri. Aku merasa lebih pantas bekerja di tempat lain dengan kerjaan yang tidak monoton. Namun pagi itu berbeda. Aku dipanggil keruangan senior. Kali ini mereka memintaku membuat konsep iklan. Aku terkejut. Antara senang dan tidak percaya. Mereka memberiku waktu satu bulan untuk melakukan riset. Betapa rajinnya aku. Tidak kenal lelah meski sudah menginjak dini hari. Pembuktian.

Besok adalah hariku. Aku akan presentasi di depan klien. Oh Tuhan, malam ini aku tidak bisa tidur. Aku terus melatih public speakingku semalaman.

Namun sayang, ternyata besok tidak pernah datang.

Pukul 03.00 WIB aku ditelpon, kantor kebakaran. Semua barang disana hangus, tak ada satupun yang tersisa. Termasuk hasil kerjaku. Hasil kerjaku selama sebulan mempersiapkan semua detil konsep. Semua arsip kantor hangus, dan aku tak punya file copynya.

Aku berakhir dengan cara ini. dan tetap kacung.

NB: Personal Flash Fiction Competition #1 (Tema: Kesempatan)