28 April 2012

Ada ketidakpahaman di ruang ini. Ketidakpahaman tentang banyak hal. Entah.
Disatu sisi, baiklah saya belajar banyak hal, saya mengenal banyak karakter, emosi, keadaan, situasi, dan apalah. Masih banyak lagi. Tapi di satu sisi lain, Ya Allah, apa ini? Kenapa begini? Kenapa begitu?

Banyak hal yang tidak bisa saya pahami. Saya mencoba paham beratus kali pun, saya benar-benar tidak paham. Saya tidak tau dari mana saya harus pahami dan pelajari.

Jika ruang ini diibaratkan sebuah halaman buku, saya sungguh tidak tau harus mulai mengeja dari mana, lebih-lebih membaca, dan sekaligus mengerti.

Entah...

"Seseorang, siapapun. Tolong bantu saya untuk memahami ini."

23 April 2012


Sabtu malam yang biasa. Harusnya aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Bukankah sudah dari dulu seperti itu? Bukankah memang aku selalu berteman televisi, ponsel, laptop, atau apa saja yang bisa kujadikan teman sabtu malam. Tapi itu berbeda, sejak dia datang. Datang membawa janji-janji. Harap tentang hati yang terbungkus kasih sayang, berbalut sayang, dan berhias cinta.

Malam itu, aku menyebutnya malam terakhir. Iya malam terakhir aku bisa memandang wajahnya lamat-lamat dari jarak paling dekat. Memandang wajahnya yang lembut, menatap matanya yang meski tajam tapi sungguh terasa teduh. Malam ini, aku kehilangan. Bukan. Lebih tepatnya aku mulai merindunya.

Malam itu, dia memetik gitar. Mendengarkan sesaat musik dari ponsel, kemudian mencoba mencari nada pada tiap balok-balok kunci gitar. Iya, malam itu untuk kesekian kalinya aku terpesona oleh hamba Allah yang satu ini. Ah, mungkin berlebihan. Mana ada orang yang tidak bisa mencari kunci nada jika memang lihai bermain gitar. Iya, mungkin untuk bagian ini aku terlalu berlebihan. Tapi sungguh, saat itu aku terpesona olehnya untuk kesekian kali.

Dia mulai memetik  gitar, dan aku mulai menyanyikan sedikit liriknya. Senyum itu, tawa itu, iya aku menikmatinya. Berharap esok akan terulang lagi. Berharap esok akan ada keadaan seakrab ini lagi, sedekat ini lagi. Tapi….

Dia terus memetik gitarnya menyelesaikan satu lagu. Dan aku? Aku hanya diam. Terpesona olehnya yang betapa dia selalu menganggap dirinya kecil, padahal dia adalah orang yang bisa melakukan banyak hal.

Saat itulah, saat aku menatapnya, saat seluruh ruangan hanya dipenuhi oleh suara petikan gitar. Saat itulah selaksar doa terucap dalam hati. Selaksar doa yang sama, yang selalu terucap ketika memandanginya, ketika dia bergegas pergi ke masjid ketika mendengar adzan, meninggalkan semua kesibukan duniawinya dan pergi shalat berjamaah. Ketika dia mengeluhkan sedikitnya pemuda yang shalat berjamaah di masjid, padahal banyak sekali nikmat yang dilimpahkan Sang Pencipta, namun untuk meluangkan waktu ke masjid saja mereka enggan. Ketika dia membanggakan betapa hebatnya islam, ketika dia menyusun program-program yang sungguh sempurna, ketika dia memiliki rencana besar, ketika untuk pertama kalinya aku melihatnya meneteskan airmata karena teringat umminya. Ketika dia terlelap di atas kursi tamu setelah lelah pergi seharian besamaku. Saat-saat itulah, selaksar doa itu benar terucap. Ya Allah, jika dia memang Kau takdirkan untukku, sungguh dekatkanlah kami, tumbuhkan cinta kami, pertemukan cinta kami dalam ikatan suci yang Engkau ridhoi. Namun jika dia memang bukan takdirku, berikan yang terbaik untuknya, ya Allah. Dan kuatkanlah aku. Karena tanpa kekuatan dari-Mu, aku tidak pernah tau, apa aku bisa menghadapi putusanMu.

Namun, mungkin malam itu adalah kali terakhir aku mengucap doa itu. Sejak hari itu, aku sungguh tak berani mengucap doa itu lagi. Aku tak berani. Ah, pantaskah aku berdoa untuk hati yang telah memilih hati yang lain? Bukankah bahagianya adalah hal penting.

Entah, Allah sudah mengabulkan doaku atau belum. Tapi aku yakin Allah mendengarnya. Bukankah Dia selalu mendengar ketika kita meminta, berdoa, memohon, atau berkeluhkesah? Hanya kita saja yang (seakan-akan) tidak mendengar perintah Nya. Bebal. Sok sibuk. Iya, Allah selalu berbaik hati pada setiap hambanya. Selalu sayang. Sungguh Allah selalu mencintai kita, dengan apapun suratanNya.

Dan pasti hal itu juga berlaku untuk perkara hati kali ini. Entah Allah sudah menjawab doa itu atau belum. Tapi yang aku yakin, Allah akan memberi yang terbaik. Bukankah Allah tidak pernah membiarkan sesuatu terjadi sia-sia? Hanya kita yang tak pernah menyadari ketidaksia-siaan itu.

Doaku, semoga Allah selalu melimpahkan yang terbaik untuk dia. Amin.

(Photo)




21 April 2012


(Photo By. Facebook)
 Cinta...

Ahh, beberapa hari terakhir, kata itu menjadi sering dibicarakan di kantor. Mungkin mereka sedang jatuh cinta, mungkin patah cinta, atau apalah namanya. Yang jelas, kata itu sedang laris manis. Bahkan semalam, saat saya masih di kantor sembari menunggu hujan reda, ada yang mempertanyakan tentang, Cinta itu apa?

Saya hanya senyum-senyum memperhatikan dua rekan saya membahas cinta di antara bulir hujan yang turun menderas. Suara derunya membahana memasuki ruangan kantor, menambah ramai riuhnya pembahasan tentang, Cinta itu apa?

Hmmm, Cinta. Cinta itu....

20 April 2012


19 April 2012, senja sore ini nampak begitu indah, begitu cantik, begitu istimewa.  Tak percaya? Bahkan pulang kerja tadi, aku sempat memotret senja.  Jingganya, pendar merahnya. Sungguh, senja sore yang hangat dan tak akan terlupakan.

Bagaimana mungkin aku lupa? Senja 19 April ini, Allah memberi jawab atas tanya yang menggantung.  Senja 19 April ini, Allah menghadiahkan jawab atas doa ditiap sujud petak sajadahku.

Senja sore ini, yang terakhir. Tapi senja tetap senja yang istimewa. Setidaknya Tuhan berbaik hati pernah memberi kesempatan menikmati indah senja lebih dekat, lebih dalam.

Terimakasih senja, karena pernah mengantar hariku menemui malam.

Demikian senja. Sekian.

(Photo By. Annisa Reswara)

04 April 2012

Melepasmu adalah hal yang sulit. 
Maka aku mulai dengan satu langkah mundur perlahan.  
Agar tak terlalu perih, tak terlalu ngilu, tak terlalu sendu.